catatanlepas.com

  • Increase font size
  • Default font size
  • Decrease font size
  • default color
  • black color
Home Fakta Agama Di Mana Allah?

Di Mana Allah?

Email Cetak PDF

I. Pendahuluan

Jika kita bertanya kepada seorang muslim tentang siapa Tuhanmu, maka dengan cepat dan spontan serta dengan keyakinan yang kuat pasti dia akan menjawab bahwa Tuhannya adalah Allah. Tetapi jika kita menanyakan lagi pertanyaan dimana Tuhannya, maka kita akan mendapat reaksi yang berbeda-beda. Di antara mereka ada yang diam dan berfikir terlebih dahulu sebelum menjawabnya, ada yang menjawab bahwa Allah berada di mana-mana, ada yang menjawab bahwa Allah ada di dalam hati, Allah tidak bertempat tetapi Ia berada di segala tempat, Allah menyatu dengan makhluk-Nya, bahkan ada yang menjawab tidak mengetahui dimana Allah itu berada. Bahkan ada yang menanyakan apa maksud dan tujuan dari pertanyaan tersebut dan sebagian dari mereka bahkan menganggap bahwa pertanyaan seperti itu sebaiknya tidak perlu dipertanyakan kepada kaum muslimin. Adalah sangat mengherankan jika kita mengetahui tentang sesuatu tetapi kita tidak mengetahui dengan pasti dimana sesuatu itu berada. Apalagi jika berhubungan dengan sebuah keyakinan. Setiap muslim pasti meyakini dengan seyakin-yakinnya bahwa Allah merupakan Tuhan bagi seluruh alam semesta, tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Allah dan keyakinan ini menancap dengan kuat di dalam hati-hati setiap muslim. Namun sayangnya mayoritas kaum muslimin saat ini tidak mengetahui dengan pasti dimana Allah itu berada. Artikel ini mencoba untuk menjelaskan tentang dimana Allah itu sebenarnya.

II. Allah di atas Langit

Jika kita membaca dan memperhatikan al-Quran dan hadits serta kitab-kitab para ulama, kemudian berfikir dengan jernih maka kita akan mengetahui dan meyakini bahwa Allah berada di atas Arsy di atas langit. Untuk lebih jelasnya, berikut adalah sebagian dalil-dalil yang menyatakan bahwa Allah berada di atas langit.

A. Dalil Al-Quran
Keyakinan tentang Allah di atas langit ternyata diinformasikan oleh Allah sendiri di dalam kitab-Nya. Banyak sekali ayat-ayat yang menyatakan bahwa Allah berada di atas langit. Berikut adalah sebagian dalil-dalilnya:

1. Surat Thaha

 "(Yaitu) Tuhan Yang Maha Pemurah. Yang bersemayam di atas 'Arsy" (Thaha:5)

Ayat ini merupakan ayat yang terang dan jelas yang menyatakan bahwa Allah itu berada di atas Arsy-Nya yang ada di atas langit. Selain ayat ini, Allah juga menginformasikan bahwa Dia ada di atas Arsy-Nya pada surat Al-A’raf ayat 54, Yunus ayat 3,  Ar-Ra’du ayat 2,  Al-Furqaan ayat 59,   As-Sajdah ayat 4, dan Al-Hadid ayat 4. Ada 7 ayat di dalam Al-Quran yang menerangkan bahwa Allah ada di atas Arsy-nya, masihkah kita mengatakan bahwa Allah ada di mana-mana?

2. Surat Fathir dan Al-Ma'arij
"Kepada-Nya lah naik perkataan-perkataan yang baik dan amal saleh yang dinaikkan-Nya." (Fathir:10)


"Malaikat-malaikat dan Jibril naik (menghadap) kepada Tuhan dalam sehari yang kadarnya limapuluh ribu tahun." (Al-Ma'arij:4)

Surat Fathir ayat 10 menyatakan bahwa perkataan yang baik dan amal shaleh naik kepada-Nya dan surat Al-Ma'arij:4 menyatakan bahwa para malaikat dan Jibril naik kepada-Nya. Dan kita mengetahui bahwa yang namanya naik itu dari bawah ke atas.

3. Surat Fushshilat

"Yang tidak datang kepadanya (Al-Qur'an) kebatilan baik dari depan maupun dari belakangnya, yang diturunkan dari Rabb Yang Maha Bijaksana lagi Maha Terpuji.". (Fushshilat:42)

Ayat di atas menerangkan bahwa Al-Quran diturunkan oleh Allah dan kita mengetahui bahwa yang namanya turun itu dari atas ke bawah.

4. Surat Al-Mulk

Apakah kamu merasa aman terhadap Dzat yang di atas langit, bahwa Ia akan menenggelamkan ke dalam bumi, maka tiba-tiba ia (bumi) bergoncang ? Ataukah kamu (memang) merasa aman terhadap Dzat yang di atas langit bahwa Ia akan mengirim kepada kamu angin yang mengandung batu kerikil ? Maka kamu akan mengetahui bagaimana ancaman-Ku”. (Al-Mulk:16-17).
 
Dua ayat di atas sangat tegas sekali yang tidak dapat dibantah dan ta’wil bahwa lafadz ”MAN” tidak mungkin difahami selain dari Allah ‘Azza wa Jalla. Bukan Malaikat-Nya sebagaimana dikatakan oleh kaum Jahmiyyah dan yang sepaham dengannya, yang telah merubah firman Allah ‘Azza wa Jalla. Bukankah dlamir (kata ganti) pada fi’il (kata kerja) ”yakhtsif” (Ia menenggelamkan) dan ”yartsil” (Ia mengirim) adalah ”huwa” (Dia)? Siapakah Dia itu kalau bukan Allah ‘Azza wa Jalla.

5. Surat An-Nahl
Mereka (para Malaikat) takut kepada Tuhan mereka yang berada di atas mereka, dan mereka mengerjakan apa-apa yang diperintahkan”. (An-Nahl : 50).

Ayat ini tegas sekali menyatakan bahwa Allah ‘Azza wa Jalla berada di atas bukan di mana-mana tempat. Karena lafadz ”fawqo” (di atas) apabila di majrur dengan huruf ”min” dalam bahasa Arab menunjukan akan ketinggian tempat. Dan tidak dapat di ta’wil dengan ketinggian martabat, sebagaimana dikatakan kaum Jahmiyyah dan yang sepaham dengan mereka. Alangkah zhalimnya mereka ini yang selalu merubah-rubah firman Tuhan kita Allah Jalla Jalaa Luhu.

6. Surat Ali Imran
(Ingatlah), ketika Allah berfirman: "Hai Isa, sesungguhnya Aku akan menyampaikan kamu kepada akhir ajalmu dan mengangkat kamu kepada-Ku” (Ali Imran : 55)

Dari ayat di atas dapat dillihat bahwa Allah mengangkat Nabi Isa kepada-Nya. Jika Allah berada dimana-mana tentu Allah tidak mengangkat Nabi Isa.

7. Surat Al-Qashash

Dan berkata Fir'aun: "Hai pembesar kaumku, aku tidak mengetahui tuhan bagimu selain aku. Maka bakarlah hai Haman untukku tanah liat  kemudian buatkanlah untukku bangunan yang tinggi supaya aku dapat naik melihat Tuhan Musa, dan sesungguhnya aku benar-benar yakin bahwa dia termasuk orang-orang pendusta". (Al-Qashash : 38).

Perhatikanlah wahai orang yang berakal! Perintah Fir’aun kepada Haman -menterinya- untuk membuatkan satu bangunan yang tinggi supaya ia dapat jalan ke langit untuk melihat Tuhannya Musa. Hal ini menunjukkan bahwa Nabi Musa telah memberitahukan kepadanya bahwa Tuhannya -Allah Subhanahu wa Ta’ala- berada di atas langit.

Kalau tidak demikian, yakni misalnya Nabi Musa mengatakan bahwa Tuhannya ada dimana-mana tempat -sebagaimana dikatakan kaum Jahmiyyah- tentu Fir’aun yang disebabkan karena kekafirannya dan pengakuannya sebagai Tuhan, akan mengerahkan bala tentaranya untuk mencari Tuhannya Musa di istananya, di rumah-rumah Bani Israil, di pasar-pasar dan di seluruh tempat di timur dan di barat !?. Tetapi tatkala Firaun dengan perkataannya: ”Sesungguhnya aku mengira dia ini berdusta !”. Yakni tentang perkataan Musa bahwa Tuhannya di atas langit.

B. Dalil dari hadits
Keberadaan Allah di atas Langit juga ditegaskan dalam hadits-hadits Rasulullah yang banyak sekali, diantaranya:

1. Hadits dari Muawiyah bin Hakam As-salami
Dari Muawiyah bin Hakam As-Sulami -radhiyallahu ‘anhu- berkata: “…Saya memiliki seorang budak wanita yang bekerja sebagai pengembala kambing di gunung Uhud dan Al-Jawwaniyyah (tempat dekat gunung Uhud). Suatu saat saya pernah memergoki seekor serigala telah memakan seekor dombanya. Saya termasuk dari bani Adam, saya juga marah sebagaimana mereka juga marah, sehingga saya menamparnya, kemudian saya datang pada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, ternyata beliau menganggap besar masalah itu. Saya berkata: “Wahai Rasulullah, apakah saya merdekakan budak itu?” Jawab beliau: “Bawalah budak itu padaku”. Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya: “Dimana Allah?” Jawab budak tersebut: “Di atas langit”. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya lagi: “Siapa saya?”. Jawab budak tersebut: “Engkau adalah Rasulullah”. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Merdekakanlah budak ini karena dia seorang wanita mukminah”. (Muslim)

Hadits di atas dengan terang dan jelas bahwa pertanyaan dimana Allah bukanlah pertanyaan yang terlarang bahkan Nabi sendiri yang bertanya seperti itu. Dan jawaban Allah di atas langit merupakan jawaban yang dibenarkan oleh nabi.

2. Hadits dari Jabir bin Abdullah
”Jabir bin Abdullah telah meriwayatkan tentang sifat haji Nabi dalam satu hadits yang panjang yang didalamnya diterangkan khotbah Nabi SAW di padang ‘Arafah : ”(Jabir menerangkan) : Lalu Nabi SAW mengangkat jari telunjuknya ke arah langit, kemudian beliau tunjukkan jarinya itu kepada manusia, (kemudian beliau berdo’a) : ”Ya Allah saksikanlah ! Ya Allah saksikanlah ! (Riwayat Imam Muslim 4/41).

Hadits di atas merupakan ketetapan bahwa Allah berada di atas langit dengan melihat perbuatan Nabi yang mengangkat jari-jarinya ke langit

3. Hadits dari Abdullah bin Ash
Rasulullah bersabda:
Orang-orang yang penyayang, mereka itu akan disayang oleh Allah Tabaaraka wa Ta’ala (Yang Maha berkat dan Maha Tinggi). oleh karena itu sayangilah orang-orang yang di muka bumi, niscaya Dzat yang di atas langit akan menyayangi kamu”. (Abu Dawud No. 4941)

Hadits di atas menetapkan bahwa Allah berada di atas langit

4. Hadits dari Anas bin Malik
Zainab binti jahsy pernah membanggakan darinya atas istri-istri Rasulullah. Dia berkata, "Kalian dinikahkan oleh keluarga kalian, sedangkan aku dinikahkan oleh Allah dari langit ke tujuh. Dalam riwayat lain Dia mengatakan Sesungguhnya Allah mengawinkanku di langit."  (Tirmidzi)

Hadits di atas menetapkan bahwa keyakinan Allah berada di atas langit diyakini oleh Zainab binti Jahsy, Istri rasulullah

5. Hadits Abu Said
Rasulullah bersabda:
"Apakah kalian semua tidak percaya kepadaku sedangkan aku seorang yang terpercaya oleh dzat yang di langit? Berita langit datang kepadaku pagi dan sore." (Bukhari-Muslim)

Hadits di atas menetapkan bahwa Allah berada di langit berdasarkan perkataan beliau bahwa beliau merupakan orang yang dipercaya oleh dzat yang di langit

6. Hadits dari Ibnu Umar
Rasululllah bersabda:
"Berhati-hatilah dengan doa orang yang terzhalimi karena doa itu naik kepada Allah seperti lompatan bunga api." (Hakim)

Hadits di atas menetapkan bahwa Allah berada di langit karena doa orang yang terzhalimi naik kepada-Nya.

7. Hadits dari Saad bin Abi Waqqash
Nabi berkata kepada Saad bin Muadz:
"Engkau telah mengadili mereka dengan hukum sang maharaja dari atas tujuh langit." (Nasai)

Hadits di atas menetapkan bahwa Allah berada di langit berdasarkan perkataan Nabi kepada Muadz bin Jabal yang hukum yang ditetapkan olehnya sama dengan hukum yang ditetapkan oleh Dzat dari atas tujuh langit.

8. Hadits dari Abu Hurairah
Rasulullah bersabda:
"Sejak diberi mandat, Shahibush shuwar (Malaikat Israfil) tidak pernah mengedipakn matanya dan selalu memandang ke arah Arsy, seakan-akan (kedua matanya) dua bintang yang berkilau. Sebab ia khawatir perintah diturunkan kepadanya ketika kedua matanya terpejam." (Hakim)

Hadits di atas menetapkan bahwa Allah berada di langit karena malaikat Israfil selalu memandang ke arah arsy untuk menanti perintah-Nya.

9. Hadits dari Imran bin Hushain
"Terimalah berita gembira wahai Bani tamim mereka menjawab berikanlah kepada kami kamudian rasululah bersabda Terimalah kabar gembira wahai penduduk yaman. Mereka menjawab engkau telah memberi kabar gembira kepada kami, tapi beritahukanlah kepada kami tentang bagaimana adanya hal tersebut? Beliau bersabda,"Allah telah ada di atas Arsy dan keberadaan-Nya sebelum segala sesuatu (ada). Dia menuliskan dalam Lauh, segala sesuatu yang akan terjadi." (Bukhari)

Hadits di atas menetapkan bahwa Allah berada di langit berdasarkan perkataan Nabi Allah telah ada di atas Arsy.

10.  Hadits dari Abu Hurairah
"Tuhan kami turun di setiap malam ketika telah lewat sepertiga malam yang pertama lalu dia berkata Aku adalah Sang Maha Raja, siapakah yang ingin memohon kepada-Ku untuk Aku kabulkan? Siapa yang ingin memohon ampunan kepada-Ku untuk aku ampuni? Dan dia terus melakukan seperti ini." (Ahmad)

Hadits di atas menetapkan bahwa Allah berada di langit karena dia turun pada setiap malam.

C. Perkataan dan Ketetapan Para Ulama
Para sahabat, para tabi'in serta para imam-imam kaum muslimin telah bersepakat akan ketinggian Allah di atas langitnya bersemayam di atas Arsynya. Berikut sebagian diantaranya:

1. Imam Abu Hanifah (80 H - 150 H)

Abi Muthi' al hakam bin Abdullah al-Balkhi, penyusun kitab Al-Fiqhul Akbar berkata, "Aku bertanya kepada Abu Hanifah tentang orang yang mengatakan Aku tidak mengetahui apakah tuhanku di langit atau di bumi" Lalu beliau menjawab "Orang itu telah kafir, karena Allah berfirman Yaitu tuhan yang maha pemurah yang bersemayam di atas arsy (Thaha:5) sedangkan Arsy-Nya di atas Langit. Aku kembali bertanya kepadanya orang tersebut menyatakan Aku katakan dia di atas Arsy, tapi aku tidak tahu apakah arsy itu ada di langit atau di bumi. Beliau menjawab Jika dia mengingkari bahwasanya Arsy tersebut ada di langit maka dia telah kafir."

2. Imam al-Auza’i (... - 157 H)
Imam Al-Auza'i berkata, “Kami dan seluruh tabi’in bersepakat mengatakan, Alloh berada di atas ‘arsy-Nya. Dan kami semua mengimani sifat-sifat yang dijelaskan dalam as-Sunnah.”

2. Imam Malik
(93 H - 179 H)
Diriwayatkan oleh Abdullah bin Ahmad bin hambal dalam Ar-Radd 'alal jahmiyyah,"Ayahku meriwayatkan kepadaku (kemudian dia menyebutkan sanadnya dari) Abdullah bin nafi'. Dia berkata malik bin Anas mengatakan bahwa Allah di langit, sedangkan ilmu-Nya ada di setiap tempat, tidak terlepas darinya sesuatu."

3. Abdullah bin Mubarak (118 H - 181 H)
(Telah shahih) dari Ali bin Husein bin Syaqiq yang berkata,"Aku telah bertanya kepada Abdullah bin Mubarak "Bagaimana kita mengenal Tuhan kita Beliau menjawab Dia di langit ketujuh di atas arsy-nya. Jangan sampai kita mengatakan seperti yang dikatakan oleh golongan Jahmiyyah yaitu Dia di sini (Di Bumi)." Pendapat ini disampaikan kepada Ahmad bin hambal, beliau berkata,"Demikian adalah menurut kami"

4. Imam Asy-Syafi'i (150 H - 204 H)
Beliau berkata,"Aqidah yang saya yakini dan diyaikini oleh orang-orang yang pernah aku temui seperti Sufyan, Malik dan selainnya adalah menetapkan syahadat bahwa tidaka ada sesembahan yang berhak kecuali Allah dan Muhammad adalah Rasulullah dan bahwasanya Allah di atas arsy-Nya yakni di atas langitnya."

5. Imam Ahmad
(164 H - 241 H)
Yusuf bin Musa Al-Qahthan -guru Abu Bakar Al-khallah- berkata Abu Abdullah (Imam Ahmad) ditanya,"(Apakah) Allah di atas langit ketujuh di atas Arsynya bebrbeda dari makhluk-Nya dan kekuasaan dan Ilmu-Nya ada di setiap tempat?" Beliau menjawab,"Benar, Dia di atas arsy-Nya, tidak ada suatu apapun yang lepas dari ilmu-Nya."

6. Imam Ibnu Khuzaimah (233H - 311H)
Ibnu Khuzaimah berkata,"Barangsiapa yang tidak mengakui bahwa Allah di atas Arsy-Nya bersemayam di atas tujuh langit-Nya, berbeda dari makhluk-Nya, maka ia telah kafir dan diminyta untuk bertaubat. Jika ia tidak bertaubat, maka penggal lehernya kemudian lemparkan ke tempat sampah agar baunya tidak mengganggu ahli Qiblat (orang Muslim) dan ahli Dzimmah (Orang-orang kafir Dzimmi yang berada di dalam wilayah Islam)."

7. Abu Said Uthman Ad-Darimi
Beliau berkata,"Barangsiapa tidak melahirkan ibadahnya dan imannya kepada Allah yang bersemayam di atas Arsy dan berada di atas langit terpisah dari makhluk-Nya, maka sesungguhnya ia telah menyembah selain Allah dan ia tidak mengetahui dimana Allah."

8. Abdul Qadir Al-Jailani (471 H - 562 H)
Beliau berkata,"Dan Allah tinggi di atas Arsy, merajai segala kerajaan dan ilmu-Nya meliputi segala sesuatu (Kepada-Nyalah naik perkataan yang baik dan amal shalih) Dan tidak boleh mensifati Allah bahwa Dia di setiap tempat bahkan kita katakan Allah di atas langit, di atas Arsy" sebagaimana firmannya,"Ar-Rahman tinggi di atas Arsy (Thaha:5)" Demikianlah yang harus kita katakan tanpa takwil. Dan keyakinan Allah di atas langit telah diterangkan dalam setiap kitab yang diturunkan pada setiap Nabi dan Rasul tanpa Kaifa (menanyakan Bagaimananya)."

9. Abul Hasan Al-Asyari (260 H - 324 H)
Beliau berkata,"Dan kita melihat seluruh kaum muslimin apabila mereka berdo’a, mereka mengangkat tangannya ke arah langit, karena memang Allah tinggi di atas arsy dan arsy di atas langit. Seandainya Allah tidak berada di atas Arsy, tentu mereka tidak akan mengangkat tangannya ke arah arsy. Dan kaum Mu’tazilah, Haruriyyah dan Jahmiyyah beranggapan bahwa Allah berada di setiap tempat. Hal ini melazimkan mereka bahwa Allah berada di perut Maryam, tempat sampah dan WC. Faham ini menyelisihi agama. Maha suci Allah dari ucapan mereka."

D. Dalil Akal
Akal yang masih sehat dan jernih pasti meyakini bahwa Allah berada di atas Langit. Hal ini bisa dilihat dari beberapa segi:
1. Ketinggian Allah merupakan sifat yang mulia bagi Allah
2. Kebalikan tinggi adalah rendah, sedang rendah merupakan sifat yang kurang bagi Allah, Maha suci Allah dari sifat-sifat yang rendah.
3. Kita mengetahui bahwa raja-raja di dunia memiliki singgasana yang letaknya lebih tinggi dibandingkan tempat duduk selain raja tersebut sehingga terlihat bahwa raja itu lebih tinggi dibandingkan dengan selainnya. Lalu bagaimana dengan Allah yang merupakan Raja dari alam semesta ini? Tentu Allah lebih berhak lagi untuk memiliki sifat yang maha tinggi dari pada hamba-hamba-Nya.
4. Pada saat kita berdoa kepada Allah pasti kita akan mengangkat tangan kita ke langit dan ini adalah fitrah manusia. Hal ini menandakan bahwa kita meminta kepada Dzat yang berada di atas langit untuk mengabulkan permohonan kita. Jika Allah berada di mana-mana tentu kita tidak akan mengangkat tangan kita ke atas langit.
5. Kita mungkin atau sering berbicara kepada teman kita,"Terserah Yang di Atas aja deh" atau yang semakna dengan itu. Itu menandakan bahwa secara fitrah, manusia mengakui bahwa Allah berada di atas langit dan pasrah terhadap takdir yang telah ditentukan oleh-Nya untuk kita dan orang yang mendengarkannya pun paham atas pernyataan orang tersebut bahwa yang dimaksud dengan Yang di Atas adalah Allah. Jika Allah berada di mana-mana tentu kita tidak akan berkata seperti itu dan mungkin akan berkata "Terserah Yang di Mana-mana Aja Deh". Tapi, adakah manusia normal yang mengatakan hal seperti itu?
6. Jika Allah berada dimana-mana, tentu Allah berada di WC, kandang kambing, dan tempat-tempat kotor lainnya. Apakah layak Tuhan yang kita sembah berada di tempat seperti itu?
7. Kita mengetahui bahwa perintah shalat diterima Nabi langsung dari Allah di Sidratul Muntaha pada peristiwa Isra Mi'raj. Hal ini menandakan bahwa Allah berada di atas langit. Jika Allah berada di mana-mana, tentu Nabi tidak akan menerima perintah shalat tersebut di Sidratul Muntaha.
8. Di dalam setiap shalatnya, setiap muslim dianjurkan untuk membaca Subhaana Rabbiyal Al-A'la (Mahasuci Allah, Tuhanku Yang Mahatinggi). Jika memang Allah tidak berada di atas langit, maka apa artinya bacaan tersebut khususnya dalam bacaan
Rabbiyal Al-A'la (Tuhanku Yang Mahatinggi)? Kita sering membaca Tuhanku yang Maha Tinggi (Rabbiyal Al-A'la) tetapi kita mengingkari bahwa Allah berada di atas langit?

IV. Asal usul pengingkaran

Dari dalil-dalil di atas dapat disimpulkan bahwa Allah menginformasikan diri-Nya kepada para makhluk-Nya bahwa Dia mempunyai sifat 'Uluw (tinggi) dan Dzat-Nya berada di atas Arsy seperti yang tertera di dalam kitab-Nya. Hal ini kemudian dijelaskan oleh Rasul-Nya yang mulia dan diyakini oleh para sahabatnya dan diikuti oleh para tabi'in, para tabi'ut tabi'in, dan para ulama sesudahnya. Namun aqidah ini sedikit demi sedikit hilang dari keyakinan kaum muslimin setelah terpengaruh oleh pemikiran Jahm bin Shafwan, seorang penduduk dari negeri Tirmidz di Khurasan yang hidup pada masa akhir masa Tabi'in. Seorang yang selalu berkata dan berbantah, banyak berbicara tentang perkara yang berkaitan dengan Allah, menganggap bahwa Al-Qur’an adalah makhluk, mengatakan bahwa Allah tidak berbicara dengan Nabi Musa, mengatakan bahwa Allah tidak mempunyai sifat Al-Kalam (Berbicara), mengatakan bahwa Allah tidak bisa dilihat (yaitu pada waktu di surga), mengatakan bahwa Allah tidak bertempat di atas ‘Arsy.

Sebagian para ulama menyebutkan bahwa orang pertama yang memegang dan memelihara perkataan-perkataan ini dalam Islam adalah Ja’d bin Dirham. Jahm bin Shofwan mengambil perkataan tersebut, men-zhahir-kannya dan menasabkan pada dirinya. Dikatakan bahwa Ja’d bin Dirham mengambil perkataannya dari Aban bin Sam’an, Aban dari Tholut anak saudara perempuan Labid bin Al-A’shom, Tholut dari Labid bin Al-A’shom seorang penyihir Yahudi yang menyihir Nabi. Kemudian Jahm bin Shafwan dibunuh oleh Sulam bin Ahwaz al-Mazini penguasa Moru di akhir pemerintahan Bani Umaiyyah. Imam Ad-Darimi dalam kitabnya Ar-Rad ‘alal Jahmiyah menyebutkan bab khusus yang berkaitan dengan pengkafiran Al-Jahmiyah yaitu Babul Ihtijaji fi Ikfaril Jahmiyah, beliau berkata: “Ada seorang laki-laki yang membela orang-orang Jahmiyah dan mengadakan munadhoroh denganku, dia berkata kepadaku: ’Dengan hujjah/dalil apa engkau mengkafirkan orang-orang Jahmiyah padahal (kita) dilarang mengkafirkan Ahlul Qiblah (kaum muslimin). Apakah engkau mengkafirkan mereka dengan dalil Al-Quran? Atau dengan Atsar? Atau dengan Ijma’?, maka aku katakan kepadanya: ’Tidak ada yang mengatakan dari kalangan kami bahwa Jahmiyah adalah Ahlul Qiblah. Kami tidak mengkafirkan mereka kecuali dengan dengan kitab yang dicatat (Al-Quran), dengan atsar yang masyhur dan dengan kekufuran yang masyhur… kemudian diperlihatkan secara tafshil (rinci) tentang dalil-dalil yang menunjukkan kekafiran mereka”.

Sungguh Syaikhul Ibnu Taimiyah telah menyebutkan kekafiran Al-Jahmiyah dari kebanyakan para Imam Salaf (Ahlus-Sunnah Wal-Jamaah), beliau berkata:“Yang masyhur dari madzhabnya Al-Imam Ahmad dan kebanyakan para Imam Ahlus-Sunnah Wal-Jamaah mereka telah mengkafirkan Al-Jahmiyah yang telah menolak sifat-sifat Ar-Rahman, karena sesungguhnya perkataan mereka jelas bertentangan dengan apa-apa yang dibawa oleh Rasul yaitu Al-Kitab (Al-Quran)”.

Demikian juga Imam Ibnul Qayyim telah menukil dari 500 ulama Salaf tentang kekafiran Al-Jahmiyah dalam kitab Nuniyah. Sebagian orang mengatakan bahwa keberadaan Al-Jahmiyah pada zaman sekarang telah musnah, tetapi pada hakekatnya pemikiran Al-Jahmiyah tidak musnah sampai saat ini meskipun keberadaan mereka telah berganti baju dan nama yang baru.


V. Syubhat dan jawabannya

Banyak syubhat yang beredar tentang keberadaan Allah di atas Langit. Di antaranya adalah sebagai berikut:

1. Syubhat dari Quraisy Syihab
Syubhat yang dilontarkan oleh Dr. Quraisy Syihab yang berkata dalam kitabnya Membumikan Al-Quran: “Karena ia menimbulkan kesan keberadaan tuhan pada satu tempat, hal yang mustahil bagi-Nya dan mustahil pula diucapkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam …”.

Jawab:

Jika yang dimaksud dengan tempat (Makaan) adalah perkara konkrit dengan pemahaman kebanyakan orang pada saat ini dan mengira bahwa itulah yang dimaksud dengan menetapkan sifat tinggi kepada Allah maka jawabannya adalah sesungguhnya Allah suci untuk berada di suatu tempat dengan pemahaman di atas. Dia tidak dapat disamakan dengan sesuatu.

Apabila yang maksud  “tempat” adalah yang tersirat dalam benak fikiran kita yaitu setiap yang meliputi dan membatasi seperti langit, bumi, kursi, arsy dan sebagainya maka benar hal itu mustahil bagi Allah karena Allah tidak mungkin dibatasi dan diliputi oleh makhluk, bahkan Dia lebih besar dan agung, bahkan kursi-Nya saja meliputi langit dan bumi. Allah berfirman:

"Dan mereka tidak mengagungkan Allah dengan pengagungan yang semestinya padahal bumi seluruhnya dalam genggaman-Nya pada hari kiamat dan langit digulung dengan tangan kanan-Nya. Maha Suci Tuhan dan Maha Tinggi Dia dari apa yang mereka persekutukan." (QS. Az-Zumar: 67).

Rasulullah bersabda:
"Allah menggenggam bumi dan melipat langit dengan tangan kanan-Nya kemudian berfirman: “Saya adalah Raja, manakah raja-raja bumi?” (Bukhari No. 6519)

Kalau yang dimaksudkan dengan tempat adalah suatu perkara abstrak yang berarti telah ada sebelum adanya dunia, sebelum adanya sifat tinggi, maka ketahuilah bahwa Allah di atas alam dan tidak ada tempat yang bernama konkrit sampai Allah menciptakan makhluk-Nya. Jika kita engkau mendengar atau membaca dari salah satu atau ulama tentang penisbatan "tempat" kepada Allah, maka ketahuilah bahwa maksudnya adalah "tempat" dalam pengertian abstrak. Yang mereka maksudkan adalah penetapan sifat tinggi ('Uluw) bagi Allah Ta'ala, dan bantahan terhadap golongan Jahmiyyah dan orang-orang yang meniadakan maknanya serta meniadakan sifat tersebut dari Allah

Adapun apabila maksud “tempat” adalah sesuatu yang tidak meliputi yakni diluar alam semesta, maka Allah di luar alam semesta sebagaimana keberadaan-Nya sebelum menciptakan makhluk.
Jadi, Allah di tempat yang bermakna kedua ini bukan makna pertama

2. Allah bersama mereka
Mereka berdalil dengan surat Al-Mujadalah ayat 7:


"Tidakkah kamu perhatikan, bahwa sesungguhnya Allah mengetahui apa yang ada di langit dan di bumi? Tiada pembicaraan rahasia antara tiga orang, melainkan Dia-lah keempatnya. Dan tiada (pembicaraan antara) lima orang, melainkan Dia-lah keenamnya. Dan tiada (pula) pembicaraan antara jumlah yang kurang dari itu atau lebih banyak, melainkan Dia berada bersama mereka di manapun mereka berada. Kemudian Dia akan memberitahukan kepada mereka pada hari kiamat apa yang telah mereka kerjakan. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui segala sesuatu." (Al-Mujadalah:7)

dan surat Al-Hadiid ayat 4:


"Dialah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa: Kemudian Dia bersemayam di atas 'Arsy Dia mengetahui apa yang masuk ke dalam bumi dan apa yang keluar daripadanya dan apa yang turun dari langit dan apa yang naik kepada-Nya. Dan Dia bersama kamu di mana saja kamu berada. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan." (Al-Hadiid:4)

Di ayat-ayat tersebut terlihat bahwa Allah bersama mereka dimana pun mereka berada. Jadi kalau begitu, Allah ada dimana-mana?

Jawab:

Mengenai surat Al-Mujadalah ayat 7 berikut penjelasannya:
Abu Thalib Ahmad bin Humaid berkata "Aku bertanya kepada Ahmad bin Hambal tentang seseorang yang berkata Allah bersama kita dan membaca Ayat Tiada pembicaraan rahasia antara tiga orang kecuali Dialah yang keempatnya (Mujadilah:7)." Beliau menjawab,"Orang ini telah ikut terpengaruh pendapat Jahmiyah, meereka mengambil akhir ayat dan meninggalkan akhirnya."

Imam Ahmad telah menerangkan tentang maksud ayat ini bahwa Ayat ini dari awal hingga akhir ayat, dimulai dengan membicarakan tentang Ilmu-Nya yaitu, "Tidakkah kamu perhatikan sesungguhnya Allah mengetahui apa yang ada di langit dan yang ada di bumi" Melalui ayat ini, Allah mengabarkan kepada umat-Nya bahwa Dia Maha Mengetahui apa yang ada di langit dan di bumi, mengetahui bisikan dua orang atau lebih yang berbisik-bisik dan bukan mengatakan bahwa Allah ada di mana-mana. Ayat ini diakhiri dengan kalimat ilmu, "Sesungguhnya Allah maha mengetahui segala sesuatu." Ini membuktikan Allah bersama kita dengan ilmu-Nya bukan Dzat-Nya. Ibnu Katsir juga menjelaskan tentang ayat ini "Oleh karena yang demikian telah menceritakan bukan hanya seorang tapi ijma bahwa yang dimaksudkan oleh ayat ini adalah Allah bersama seseorang dengan ilmu-Nya." Dan beliau menjelaskan lagi,"Tidak tersembunyi dari pengetahuan-Nya segala apapaun perkara mereka oleh karena itu Allah berfirman Kemudian Dia akan memberitahukan kepada mereka pada Hari kiamat apa yang mereka kerjakan. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui Segala Sesuatu."

Begitu juga dengan surat Al-Hadiid ayat 4. Berikut adalah penjelasannya:
Tetapi maksud dari ayat itu “Dia bersama kamu…” ialah ilmu-Nya, pengawasan-Nya, penjagaan-Nya bersama kamu, sedang Dzat Allah di atas arsy di langit. (Lihat Tafsir Qur`anil Azhim: 4/317).

Imam Sufyan ats Tsaury -wafat pada tahun 161 H- pernah ditanya tentang ayat ini “Dan Dia bersama kamu di mana saja kamu berada.” Beliau menjawab, “yakni ilmu-Nya.” Hanbal bin Ishaq berkata: Abu Abdillah (Imam Ahmad, pent.) ditanya apa makna “Dan Dia bersama kamu”? Beliau menjawab, “Yakni ilmu-Nya, ilmu-Nya meliputi segala hal sedangkan Rabb kita di atas arsy…” Imam Nu’aim bin Hammad -wafat pada tahun 228 H- ditanya tentang firman Allah “Dan Dia bersama kamu” beliau berkata, “Maknanya tidak ada sesuatupun yang luput darinya, dengan ilmu-Nya.” (lihat Al ‘Uluw, Imam adz Dzahabi).

Berkata Abu Qasim Al-Asfahani, Jika mereka mempersoalkan kamu tentang penakwilan ayat Dia bersama kamu di mana Kamu berada dan kamu menafsirkan ilmu-Nya?Kami katakan: Sesungguhnya ayat tersebut menunjukkan bahwa yang dimaksudkan yang bersama ialah ilmu-Nya karena Dia berfirman diakhir ayat tersebut Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui Segala Sesuatu.

Ada kisah yang menarik antara Abu Hanifah dengan seorang wanita yang terpengaruh oleh ajaran Jahmiyyah. Wanita itu berkata kepada Abu hanifah,"Anda yang mengajari orang-orang tapi anda meninggalkan agama anda? Dimana Tuhan yang anda sembah?" Abu Hanifah terdiam dan tidak memberikan jawaban sampai 7 hari lamanya. Kemudian beliau keluar menemui kami dengan tulisan "Sesungguhnya Allah berada di langit, bukan di bumi." Kemudian seseorang berkata kepadanya,"Tidakkah engkau lihat firman Allah," ... dan Dia bersama kalian (Al-hadiid:4)." Beliau menjawab,"Hal seperti itu sama dengan menuliskan kepada seseorang ,"Sesungguhnya aku bersamamu sedangkau engkau tidak berada di sisinya."

3. Kedekatan Allah dengan para hamba-Nya
Jika memang Allah berada di atas langit, lalu bagaimana dengan ayat-ayat yang menunjukkan kedekatan atau kebersamaan (Ma'iyyah) Allah dengan hamba-hamba-Nya seperti pada surat At-Taubah:


"Jikalau kamu tidak menolongnya (Muhammad) maka sesungguhnya Allah telah menolongnya (yaitu) ketika orang-orang kafir (musyrikin Mekah) mengeluarkannya (dari Mekah) sedang dia salah seorang dari dua orang ketika keduanya berada dalam gua, di waktu dia berkata kepada temannya: "Janganlah kamu berduka cita, sesungguhnya Allah beserta kita." (At-Taubah:40)

dan An-Nahl:128

"Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang bertakwa dan orang-orang yang berbuat kebaikan." (An-Nahl:128)

Jawab:

Permasalahan ini di jawab oleh Syaikh Utsaimin dengan sangat menakjubkan. Beliau berkata bahwa cara mengkompromikan sifat kebersamaan dengan sifat tingginya Allah dengan dua cara yaitu:
a. Sesungguhnya keduanya itu tidak saling bertentangan. Dalam kenyataan terkadang dua sifat ini berkumpul pada sesuatu sebagaimana engkau katakan "Kami terus berjalan dan bulan itu bersama kami," Padahal bulan itu ada di atas.
b. Sesungguhnya kalau seandainya keduanya saling bertentangan pada makhluk, yang demikian itu tidak mesti harus bertentangan pula pada sang Khaliq. Karena sesungguhnya tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia dan Dia itu Maha mendengar dan Maha melihat.

Dan tidak boleh menafsirkan kebersamaan disini dengan kebersamaan Dzat Allah di setiap tempat dengan alasan:
a. Karena hal ini itu mustahil atas Allah, sebab hal ini akan menafikan sifat tinggi bagi Allah. Padahal sifat tinggi adalah sifat Dzatiyah yang tidak mungkin berpisah dengan Allah.
b. Sesungguhnya penafsiran demikian itu menyelisihi apa-apa yang telah ditafsirkan para salaf (generasi terdahulu).
c. Sesungguhnya dengan penafsiran seperti ini akan membawa pada penafsiran batil tentang sifat-sifat Allah (Seperti akan dipahami kalau Allah itu ada di tempat-tempat kotor, di WC, di selokan dan sebagainya. Maka Maha Suci Allah dari apa yang mereka sifatkan. Selesai perkataan Syaikh Utsaimin.

Berkata Ibnul Qayyim: “Dalam ayat ini (Al-Hadid ayat 4) Allah mengkabarkan bahwa diri-Nya tinggi di atas ‘Arsy-Nya, dan sekaligus menyatakan bersama makhluk-Nya, melihat dan memperhatikan amalan mereka dari atas ‘Arsy-Nya. Seperti dalam hadits: (“Allah di atas ‘Arsy-Nya melihat apa yang kalian kerjakan”). Maka 'Uluw(Ketinggian)-Nya Allah tidak bertentangan dengan ma’iyyahnya; dan maiyyahnya tidak membatalkan ‘uluwnya. Kedua-duanya adalah benar”.


4. Adanya hadits-hadits yang menyatakan bahwa Allah ada di Hati kaum mukmin
Seperti sebuah hadits di bawah ini:
Seorang sahabat bertanya kepada Nabi Shallallahu alaihi wasallam "Ya Rasulullah, dimanakah Allah, apakah di langit atau dibumi?"
(Jawab beliau): (Allah) berada di setiap hati orang mu'min.

Hadits diatas menurut Ustadz Abdul Hakim bin Amir Abdat dalam bukunya Hadits-Hadits Dhoif dan Maudhu dikatakan tidak ada asalnya karena riwayat di atas sama sekali tidak ada asal-usulnya yang merupakan riwayat dusta atau hadits palsu yang orang palsukan atas nama Nabi yang mulia Shallahu 'alaihi wa sallam. 

Dan juga ada sebuah kalimat seperti berikut:

"Lalu Allah swt berfirman : Tiadalah langit-Ku dan Bumi-Ku mampu menampung-Ku, namun yg mampu menampung-Ku adalah sanubari hamba-Ku yg beriman."

Secara sekilas nampak bahwa kalimat itu merupakan sebuah hadits Qudsi tetapi sayangnya tidak diketahui siapa yang meriwayatkan.  Dan jika memang itu merupakan sebuah hadits, maka hadits tersebut akan bertentangan dengan sejumlah banyak hadits yang menyatakan bahwa Allah berada di atas seperti hadits-hadits yang sudah dijelaskan di depan.

Ada seseorang yang bertanya kepada Syaikh Utsaimin tentang Allah ada di hati manusia. Beliau menjawab,"Bahwa Allah berada di dalam hati orang mukmin, pendapat ini tidak ada dalilnya, baik dari kitabullah dan sunah Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam, maupun perkataan salah seorang ulama salaf yang kami ketahui. Pernyataan itu juga batil secara mutlak, jika dimaksudkan dari pernyataan itu bahwa Allah hanya ada di hati manusia. Karena Allah terlalu agung untuk dikatakan seperti itu. Yang lebih mengherankan lagi ada orang yang menolak apa yang dijelaskan dalam Al-Kitab dan As-Sunah bahwa Allah ada di langit, kemudian justru menerima apa yang tidak ditunjukkan Al-Kitab dan Sunah, sehingga beranggapan bahwa Allah ada di dalam hati orang mukmin, padahal tidak ada satu hurufpun di dalam Al-Qur'an dan sunah yang menjelaskan hal itu. Tetapi jika yang dimaksudkan dengan perkataan bahwa Allah berada di dalam hati orang mukmin karena selalu disebut dan diingat di dalam hatinya, maka itu benar, tetapi harus diungkapkan dengan ungkapan yang sebenarnya, tidak dengan pernyataan yang mengundang kesalahpahaman seperti itu. Maka dikatakan misalnya; sesungguhnya hati seorang mukmin senantiasa berdzikir kepada Allah (mengingat Allah)."

6.  Allah itu lebih dekat daripada urat lehernya
Lalu bagaimana dengan ayat Qaf ayat 16 yang menunjukkan bahwa Allah lebih dekat daripada urat lehernya seperti firman-Nya:


"Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya." (Qaaf: 16)

Jawab:

Syaikh Utsaimin menyatakan bahwa makna ‘dekat’ pada kalimat di atas adalah dengan para malaikat yang diperintahkan-Nya. Karena ini berkaitan dengan ayat selanjutnya:

"Tidak ada satu ucapanpun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir." (Qaaf: 18)
(Lihat Qawa’idul Mutsla, Syaikh Utsaimin).

Dan juga jika kita membaca ayat 17 dari surat Qaaf nampak jelas bahwa yang dimaksud adalah para malaikat-Nya.
 
7. Hadits tentang wali
Lalu bagaimana dengan hadits berikut ini:

"Jika aku mencintainya jadilah aku sebagai pendengarannya yang ia gunakan untuk mendengar, dan sebagai penglihatannya yang ia gunakan untuk melihat, dan sebagai tangannya yang ia gunakan untuk berbuat dan sebagai kakinya yang ia gunakan untuk berjalan." (Bukhari No. 6137)

Bukankah itu merupakan hadits yang menunjukkan bahwa Allah itu menyatu dengan makhluk-Nya (Manunggaling Kawula Gusti)?

Jawab:

Secara sekilas, memang terlihat bahwa hadits di atas seperti bersatunya Allah dengan makhluknya. Namun para ulama menafsirkan bahwa hadits tersebut merupakan tanda kecintaan Alloh terhadap orang yang dicintai-Nya, maksudnya orang itu tidak akan mau mendengar hal-hal yang dilarang oleh syari’at, tidak mau melihat hal-hal yang tidak dibenarkan oleh syari’at, tidak mau mengulurkan tangannya memegang sesuatu yang tidak dibenarkan oleh syari’at dan tidak mau melangkahkan kakinya kecuali hanya kepada hal-hal yang dibenarkan oleh syari’at. Inilah pokok permasalahannya.

8. Allah tidak berada di enam arah
Sebagian orang ada yang berkata bahwa Allah itu tidak di kiri, tidak di kanan, tidak di atas, tidak di bawah, tidak di depan, tidak dibelakang. Apakah ini benar?

Jawab:
Syaikh  Utsaimin menjawab pertanyaan seseorang yang mengatakan bahwa Alah tidak berada di enam arah. Beliau menjawab,"Sedangkan perkataan mereka bahwa Allah tidak menempati enam arah, pendapat ini secara umum adalah pendapat yang batil; karena dia telah membatalkan ketetapan Allah Subhanahu wa Ta'ala  untuk Dirinya sendiri dan ditetapkan oleh Rasul-Nya, Muhammad Shallallahu Alahi wa Sallam, bahwa Allah berada di langit yang merupakan bagian atas, bahkan pernyataan seperti itu bisa menyifati Allah dengan ketiadaan, karena keenam arah itu adalah atas, bawah, kanan kiri, belakang dan depan.Tidak ada sesuatu pun yang ada di dunia ini kecuali berkaitan dengan salah satu dari keenam arah ini. Ini merupakan perkara yang rasional yang diketahui oleh akal tanpa berfikir. Jika Anda menyatakan bahwa Allah tidak menempati keenam arah itu berarti Allah tidak ada. Akal walaupun bisa meyakini adanya sesuatu yang telah terlepas dari keterikatannya dengan keenam arah itu, tetapi keenam arah itu sendiri adalah sesuatu yang dibutuhkan akal."

9. Allah di langit dan di bumi
Di dalam al-Quran ada ayat yang berbunyi:
"Dan Dialah Allah (yang disembah), baik di langit maupun di bumi; Dia mengetahui apa yang kamu rahasiakan dan apa yang kamu lahirkan dan mengetahui (pula) apa yang kamu usahakan." (An-Naml:3)
Bukankah di ayat tersebut dengan jelas menyatakan bahwa Allah berada di setiap tempat?

Jawab:

Ustadz Abdul Hakim bin Amir Abdat di dalam salah satu tulisannya menerangkan hal tersebut ketika beliau ditanya pertanyaan seperti itu. Beliau menulis: Ibnu Katsir menafsirkan ayat tersebut adalah:

1. Dialah yang dipanggil (diseru/disebut) Allah di langit dan di bumi.
2. Yakni : Dialah yang disembah dan ditauhidkan (diesakan) dan ditetapkan bagi-Nya Ilaahiyyah (Ketuhanan) oleh mahluk yang dilangit dan mahluk yang di bumi, kecuali mereka yang kafir dari golongan Jin dan manusia.

Ayat tersebut seperti juga firman Allah Subhanahu wa Ta’ala.

"Dan Dialah Tuhan (Yang disembah) di langit dan Tuhan (Yang disembah) di bumi dan Dia-lah Yang Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui." (Az-Zukhruf:84)

Yakni : Dia-lah Allah Tuhan bagi mahluk yang di langit dan bagi mahluk yang di bumi dan Ia disembah oleh penghuni keduanya. (baca : Tafsir Ibnu Katsir Juz 2 hal 123 dan Juz 4 hal 136).

Bukanlah dua ayat di atas maksudnya : Allah ada di langit dan di bumi atau berada di segala tempat!. Sebagaimana ta’wilnya kaum Jahmiyyah dan yang sepaham dengan mereka. Atau perkataan orang-orang yang ”diam” Tidak tahu Allah ada di mana! Mereka selain telah menyalahi ayat-ayat Al-Qur’an dan Hadits Nabi serta keterangan para sahabat dan Imam-imam Islam seluruhnya, juga bodoh terhadap bahasa Arab yang dengan bahasa Arab yang terang Al-Quran ini diturunkan Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Imam Abu Abdillah Al-Muhasiby dalam keterangan ayat di atas (A-Zukhruf : 84) menerangkan : ”Yakni Tuhan bagi penduduk langit dan Tuhan bagi penduduk bumi. Dan yang demikian terdapat di dalam bahasa, (umpamanya ) engkau berkata : ”Si Fulan penguasa di (negeri) Khirasan, dan di Balkh, dan di Samarqand”, padahal ia berada di satu tempat”. Yakni : Tidak berarti ia berada di tiga tempat meskipun ia menguasai ketiga negeri tersebut. Kalau dalam bahasa Indonesia, umpamanya kita berkata ”Si Fulan penguasa di Jakarta, dan penguasa di Bogor, dan penguasa di Bandung”. Sedangkan ia berada di satu tempat.Bagi Allah ada perumpamaan/misal yang lebih tinggi (baca : Fatwa Hamawiyyah Kubra hal : 73).

9. Allah sama dengan makhluk
Jika Allah bersemayam di atas 'Arsy, bukankah itu sama dengan menyamakan antara Allah dengan makhluk-Nya?

Jawab:

Umat Islam wajib meyakini bahwa Allah bersemayam di atas 'Arsy di atas langit tanpa menyamakan dengan makhluk-Nya, dan tanpa menanyakan bagaimana Allah beristiwa. Syaikh Utsaimin ditanya oleh seseorang untuk menjelaskan tentang bersemayam-Nya Allah diatas Arsy yang sesuai dengan cara bersemayam yang khusus sesuai dengan keagungan Allah dan kebesaran-Nya. Beliau menjawab:

"Kami berpendapat bahwa bersemayamnya Allah di atas 'Arsy-Nya adalah dengan cara bersemayam yang khusus, bukan bersemayam secara umum seperti yang dilakukan oleh para makhluk. Maka dari itu tidak sah dikatakan istawa 'ala al-makhluqat (bersemayam di atas makhluk-makhluk) atau di atas langit atau di atas bumi karena Dia terlalu mulia untuk itu. Mengenai 'Arsy kami katakan bahwa Allah Subhanahu wa Ta'ala  bertahta dan bersemayam di atas 'Arsy-Nya. Kata istawa lebih khusus daripada kata 'uluw yang mutlak, maka dari itu bersemayamnya Allah di atas singgasana-Nya termasuk sifat-sifat-Nya yang fi'liyah yang berkaitan dengan kehendak-Nya, lain halnya dengan kata 'uluw, itu termasuk sifat-sifat dzatiyah-Nya, yang tidak lepas darinya.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah Rahimahullah secara terus terang menjelaskan tentang hadits yang ada dalam bukunya Majmu' Al-Fatawa jilid V halaman 522, yang dikumpulkan oleh Ibnu Qasim, "Dengan demikian Allah bersemayam di atas 'Arsy setelah menciptakan langit dan bumi dalam enam hari. Sebelum itu Dia tidak bersemayam di atas 'Arsy. Dikatakan bahwa kata istawa' adalah cara bersemayam yang khusus. Segala sesuatu yang bersemayam di atas sesuatu, dia berada di atasnya, tetapi tidak semua yang berada di atas sesuatu tidak disebut dengan bersemayam dan bertahta di atasnya, tetapi segala sesuatu yang bersemayam di atas sesuatu berarti dia berada di atasnya." Itulah maksud yang sesungguhnya.

Sedangkan perkataan kami "sesuai dengan kemuliaan dan keagungan-Nya" berarti bahwa bersemayamnya Allah di atas 'Arsy adalah seperti sifat-sifat-Nya yang lain, hanya sesuai dengan keagungan dan kebesaran-Nya, yang tidak sama dengan bersemayamnya manusia. Masalah ini berarti kembali kepada masalah bagaimana bersemayamya Allah di atas 'Arsy itu, karena sifat mengikuti yang disifati. Sementara Allah adalah dzat yang tidak bisa dibuat permisalannya dan sifat-sifat-Nya tidak sama dengan sifat-sifat lainnya, seperti yang difirmankan Allah, "Tidak ada sesuatu pun yang sepadan dengan-Nya dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat." (Asy-Syuura:11).

Tidak ada yang menyamai Allah dalam dzat dan sifat-Nya, maka dari itu, Imam Malik rahimahullah ketika ditanya tentang bersemayamnya Allah, beliau menjawab, "Bersemayam adalah sesuatu yang dimengerti, tetapi bagaimana bersemayamnya adalah sesuatu yang tidak masuk akal namun harus diimani dan mempertanyakannya adalah bid'ah." Ini adalah ukuran untuk semua sifat-sifat Allah yang telah ditetapkan-Nya untuk Diri-Nya sendiri dalam bentuk yang sesuai dengan-Nya tanpa mengubah, tanpa mengada-ngada, tanpa mempertanyakan, dan tanpa membuat permisalan.

Dari sini jelaslah faedah dari pendapat ini bahwa bersemayamnya Allah di atas 'Arsy adalah bersemayam dengan cara yang khusus untuk-Nya, karena ketinggian secara umum adalah milik Allah, baik sebelum menciptakan langit dan bumi, ketika menciptakan, maupun sesudah menciptakan keduanya; karena hal itu termasuk sifat wajib-Nya, seperti Maha Mendengar, Maha Melihat, Mahakuasa, Mahaperkasa, dan sebagainya."


VI. Kesimpulan

Dari semua dalil-dalil, dan pernyataan ulama salaf tersebut menunjukkan bahwa Allah bersemayam di atas 'Arsy, sedang 'Arsy Allah berada diatas langit, bukan dimana-mana. Merupakan kewajiban bagi setiap muslim untuk mengimani dengan keimanan yang kokoh, tanpa ragu terhadap semua dalil-dalil yang menerangkan hal tersebut, dan menghadapinya sebagaimana ia datang, tanpa takwil, dan tanpa menanyakan cara Allah bersemayam, atau menyerupakannya dengan makhluk-Nya. Semoga Alloh merahmati Imam Ibnu Abil Izzi al-Hanafi yang telah mengatakan –setelah menyebutkan 18 segi dalil–, “Dan jenis-jenis dalil-dalil ini, seandainya dibukukan tersendiri, maka akan tertulis kurang lebih seribu dalil. Oleh karena itu, kepada para penentang masalah ini, hendaknya menjawab dalil-dalil ini. Tapi sungguh sangatlah mustahil mereka mampu menjawabnya.”

Seorang mukmin harus berhati-hati dari pendapat yang menginginkan apa yang ditunjukkan Kitabullah dan sunah Rasul-Nya serta kesepakatan para salaf dalam masalah-masalah yang mengandung unsur-unsur kebenaran dan kebatilan. Dia juga harus menempuh jalan orang-orang Muhajirin dan Anshar terdahulu, hingga ia termasuk kategori yang difirmankan Allah:


"Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari golongan muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya selama-lamanya. mereka kekal di dalamnya. Itulah kemenangan yang besar." (At-Taubah:100).

Semoga Allah menjadikan kita semua termasuk dalam golongan mereka dan semoga Dia memberikan rahmat-Nya kepada kita karena Dia Mahapemberi.

Referensi:

Buku Koreksi Aqidah Anda dengan pemahaman Salaf, Syaikh Muhammad bin Shaleh Al-Utsaimin
Buku Mukhtashar Al 'uluw Studi tauhid menurut Ahlus Sunnah wal Jamaah, Nashiruddin Al Albani
http://thetrueideas.multiply.com/
Majalah Al-Furqon Edisi 3 th. III / Syawal 1424
Majalah Al-Furqon Edisi 12/I Rojab 1423 H
http://alislamu.com/
http://rumahislam.com/
http://alislamu.com/

 
2 Jumadal Ula 1431 H
16 April 2010 M



+ 203
+ 3
Comments
Add New Search
Write comment
Name:
Email:
 
Website:
Title:
UBBCode:
[b] [i] [u] [url] [quote] [code] [img] 
 
 
:angry::0:confused::cheer:B):evil::silly::dry::lol::kiss::D:pinch:
:(:shock::X:side::):P:unsure::woohoo::huh::whistle:;):s
:!::?::idea::arrow:
 
Please input the anti-spam code that you can read in the image.

3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."

Terakhir Diperbaharui ( Selasa, 20 April 2010 05:53 )  

Tanggal dan Jam


Ulti Clocks content

Browse this website in:


Mutiara Hari Ini

Mereka berucap suatu ucapan yang mereka sendiri tidak memahaminya; Dan bila dikatakan: buktikanlah maka mereka tidak mampu membuktikannya (Syair Arab)

Poling

Apakah artikel-artikel di situs ini bermanfaat untuk anda?

(249 votes)

8%
92%

Waktu Shalat