catatanlepas.com

  • Increase font size
  • Default font size
  • Decrease font size
  • default color
  • black color

Keutamaan Sedekah

Email Cetak PDF
Umumnya logika manusia memahami bahwa bersedekah itu sejatinya mengurangi harta. Namun, dengan tegas 'teori langit' membantahnya. Justru sedekah bisa menjadi sebab semakin berkembangnya harta, bahkan juga bisa menjadi tabungan berharga di kampung akhirat. sedekah disyariatkan  dengan dua tujuan utama yaitu memenuhi kebutuhan kaum muslimin dan membiayai kebutuhan Islam serta menguatkannya. Dan telah dijelaskan di dalam nash-nash al-Quran dan hadits seputar keutamaan ibadah ini, juga adanya faktor pendorong bagi seorang muslim untuk segera melakukan amal ibadah ini. Berikut adalah beberapa keutamaan melakukan sedekah, diantaranya:

1. Tingginya kedudukan sedekah
Sedekah merupakan bentuk amalan yang terbaik dan disenangi Allah sebagaimana yang dijelaskan di dalm sebuah hadits:
"Dan sesungguhnya amalan yang paling dicintai Allah adalah kegembiraan yang diselipkan pada hati seorang mukmin, menolongnya dari masalah, melunasi hutang atau menjauhkan dari kelaparan." (Shahih Al- Jami no. 176)

Tingginya kedudukan orang yang mengerjakan sedekah tidak hanya di akhirat semata, melainkan juga berlaku di dunia. maka barangsiapa yang loyal akan terangkat dan bagi yang bakhil akan terhina. Bahkan Muhammad bin Hayyan berkata,"Setiap pemimpin -baik dalam masa jahiliah maupun islam hingga tersohor kepemimpinannya, kaumnya melindunginya, dan dituju oleh yang dekat maupun yang jauh - maka kepemimpinannnya itu belumlah sempurna, kecuali dengan memberikan makanan dan menghormati tamu.

2. Penjagaan Dari Mara Bahaya
Orang yang bersedekah tidak akan tertimpa bencana, meskipun sejatinya bencana tersebut menimoanya, karena bencana tidak menimpa sedekah. Sedekah merupakan penghalang dari mara bahaya, mengangkat bencana atau pun sakit yang tengah melanda. Itu semua sudah ditunjukkan oleh nash dan sudah terbukti pada realitas. Nabi bersabda:
"Sedekah itu menutup tujuh puluh pintu keburukan." (Ath-Thabrani)

Hadits yang lain adalah sabda Nabi Muhammad pada saat penduduk sedang panik karena terjadi gerhana matahari:
"Jika kalian mendapati hal itu, maka berdoalah kepada Allah, bertakbirlah kalian, laksanakan shalat dan bersedekahlah." (Bukhari no. 1044)

Ibnu Daqiqil 'Id di dalam syarahnya berkata, "Dalam hadits tersebut menunjukkan disunnahkannya bersedekah ketika ada rasa takut yaitu untuk menolak bencana yang berbahaya." Sedekah juga dapat menjaga badan, menolak bala dan penyakit bagi yang bersedekah. Nabi bersabda:

"Obatilah si sakit diantara kalian dengan bersedekah." (Shahih Al-Jami no. 3358)

Ibnu Al-Haj berkata "Dan yang dimaksudkan dengan sedekah adalah si sakit membeli dirinya dari Rabb-nya sebanyak yang dia setarakan di sisi-Nya. Sedekah pasti akan memberikan pengaruh, karena yang mengabarkannya adalah Rasulullah Ash-Shiddiq (terpercaya) dan yang disampaikan dari beliau adalah sang Maha Pemberi."

Seorang meminta obat kepada Ibnu Al-Mubarak tentang luka yang ada di lututnya sejak tujuh tahun lamanya sementara para dokter telah berputus asa. Kemudian Ibnul Mubarak memerintahkannya untuk menggali sumur di tempat yang mana banyak orang yang sedang membutuhkan air. Beliau berkata,"Saya harap darinya akan terpancar air, dan dengan itu darahnya dapat terhenti."

Wajah Abu Abdullah Al-Hakim - pengarang kitab Al-Mustadrak - juga pernah terluka beberapa tahun lamanya. Beliau meminta tolong kepada orang-orang yang berbaik hati untuk mendoakannya, maka mereka pun memperbanyak doanya. Kemudian beliau pun bersedekah kepada kaum muslimin dengan membuat fasilitas air minum di depan pintu rumahnya dan dituangkan air di dalamya maka bnyak orang yang meminum darinya. Tidak lama, yaitu setelah lewat satu pekan, maka beliau pun sembuh dan hilanglah luka itu dan wajahnya menjadi lebih indah dari yang telah lalu.

Sebaliknya tidak bersedekah dapat mendatangkan bencana bagi seorang hamba. Hadits yang menjelaskan hal tersebut adalah hadits dari Anas bin Malik:
"Bahwasanya Malaikat  Jibril berkata kepada Nabi Ya'Qub dari Allah, kenapa Aku (Allah) mencabut penglihatanmu, Aku bengkokkan punggungmu, dan saudara-saudara yusuf melakukan itu? Itu karena engkau menyembelih kambing, kemudian seorang miskin datang kepadamu sedangkan dia kelaparan, dan engkau tidak memberiknya sedikitpun." (Al-Mustadrak karya Al-Hakim 2/438 dan disetujui oleh Adz-Dzahabi)

3. Pahala yang besar dan berlipat
Allah akan menumbuhkan sedekah, melipatgandakan ganjaran pelakunya serta meninggikan derajatnya. Allah berfirman:

"Sesungguhnya orang-orang yang membenarkan (Allah dan Rasul-Nya) baik laki-laki maupun perempuan dan meminjamkan kepada Allah pinjaman yang baik, niscaya akan dilipatgandakan (pembayarannya) kepada mereka; dan bagi mereka pahala yang banyak." (Al-Hadid: 18)

Sayyid Quthub menjelaskan bahwa para pemberi sedkah baik laki-laki maupun perempuan tidak memberikan sedekahnya kepada pemungut sedekah dan tidak bermuamalah dengan sedekahnya kepada manusia melainkan mereka sedang memberikan pinjaman kepada Allah secara langsung. Maka dari itu, motivasi apa lagi yang lebih dalam dan kuat dari rasa memberi kepada sang maha kaya dan maha terpuji, dan bahwasanya dia sedang bermuamalah dengan pemilik kehidupan. semua yang diinfakkan atas-nya akan dilipatgandakan dan ditambah dengan pahala yang besar!?

Allah juga berfirman:
"Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha mengetahui." (Al-Baqarah:261)

Sayyid Qutub menjelaskan bahwa ayat ini memiliki pengaruh yang besar dalam memotivasi seorang hamba untuk bersedekah. Betapa tidak, karena Allah melipatgandakannya tanpa batas, dari kasih sayang-Nya dan pemberian rezeki dari-Nya yang tiada habisnya.

Nabi Muhammad bersabda:
"Tidaklah seseorang bersedekah dengan yang baik, sedangkan Allah menerima kecuali dari yang baik, kecuali Ar-Rahman akan mengambilnya dengan tangan kanan-Nya meskipun itu sebutir kurma. Kemudian menyuburkan di atas pundak ar-Rahman hingga akan menjadi besar melebihi gunung, sebagaimana seseorang dari kalian mengasuh fuluw (anak kuda setelah disapih) dan fashil (Anakan unta setelah disapih)." (Bukhari no. 1410)

4. Sedekah Menghapus Salah dan Dosa
Allah menjadikan sedekah sebagai sarana ampunan dari maksiat, penghapusan kesalahan, dan pemaafan. Hal ini ditunjukkan dalam firman-Nya:

"Sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik itu menghapuskan (dosa) perbuatan-perbuatan yang buruk." (Hud:114)

Ibnu Katsir menafsirkan ayat diatas,"Yaitu berlaku umum pada semua jenis perbuatan baik. Dan sedekah termasuk perbuatan baik yang paling agung, sehingga sedekah merupakan kebaikan yang lebih utama."

Hadits-hadits Nabi juga menjelaskan tentang sedekah yang menghapus dosa:
"Bersedekahlah kalian meskipun dengan kurma, karena dengannya bisa menahan lapr, memadamkan kesalahan sebagaimana air memadamkan api." (Shahih Al-Jami no. 2951)

"Cobaan seorang lelaki pada keluarga, harta, anak, dan tetangganya dapat dihapuskan dengan shalat, sedekah, dan kebaikan." (Bukhari no. 1435)

Sebagian ulama berkata,"Jika Allah mengampuni seseorang yang memberika air minum atas anjing yang sedang sangat kehausan, maka bagaimana dengan mereka yang memberikan air minum kepada seseorang yang haus, memberikan mereka kepada yang lapar, dan memeberikan baju kepada seseorang yang telanjang dari kaum muslimin?"

Sebagai tambahan untuk nash yang menjelaskan bahwa sedekah dapat menghapus dosa, maka sebagian ahli ilmu menganjurkan untuk bersedekah setiap setelah melakukan suatu kesalahan. Mungkin sandaran hukumnya adalah "Dan ikutkanlah pada setiap kesalahan perbuatan baik untuk menghapusnya." (Ahmad No. 21354)
Padahal sedekah termasuk kebaikan yang besar dan fondasi ketaatan, sehingga termasuk ke dalam nash-nash yang umum secara pasti.

5. Harta Menjadi Berkah dan Rezeki Selalu Bertambah
Sedekah akan menjaga harta dari bencana dan mara bahaya, mendatangkan keberkahan serta menjadi salah satu jalan agar Allah menggantikannya dengan sesuatu yang lebih bermanfaat, banyak, dan baik bagi para pelakunya. Hal ini telah dibuktikan oleh berbagai nash yang tetap dan juga pengalaman di lapangan.

Allah berfirman:
"Katakanlah: "Sesungguhnya Tuhanku melapangkan rezki bagi siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya dan menyempitkan bagi (siapa yang dikehendaki-Nya)". dan barang apa saja yang kamu nafkahkan, Maka Allah akan menggantinya dan Dia-lah pemberi rezki yang sebaik-baiknya." (Saba:39)

Al-Allamah as-sa'di berkata,"Firman Allah: 'Dan barang apa saja yang kamu nafkahkan', nafkah yang wajib maupun sunnah baik kepada kerabat dekat, tetangga, fakir, yatim atau selainnya 'maka Allah akan menggantinya' maka jangan dikira bahwa berinfak justru mengurangi rezeki, akan tetapi dijanjikan akan diganti bagi pelakunya dari dia yang meluaskan dan menakar, 'dan dialah pemberi rezeki yang sebaik-baiknya' maka mintalah rezeki darinya."

Betapa indahnya pernyataan sebagian orang yang mengatakan sedekahkan apa yang dikantong, niscaya akan datang kepadamu dari apa yang ghaib. Betapa cerdasnya Ali bin Abu thalib ketika ia berkata "Bacalah oleh kalian tempat-tempat mana saja yang akan mendaoatkan ganti rugi. sungguh saya telah mengetahui Allah berfirman dan barang apa saja yang kamu nafkahkan, Maka Allah akan menggantinya. Jika kalian tidak berinfak, maka bagaimana allah akan menggantinya.?"

Nash lain yang menunjukkan bahwa sedekah merupakan pintunya rezeki;sebab diluaskannya, berkesinambungannya, dan mempermudah jalannya, dan bahwasanya sedekah tidak akan menambahkan pada hamba kecuali menjadi lebih banyak adalah firman Allah dalam hadits qudsi:
"Wahai anak adam, berinfaklah niscaya akan Aku berikan nafkah atasmu." (Bukahri no. 2684)

Dan sabda Nabi:
"Tidaklah seorang hamba berada pada waktu pagi kecuali ada dua malaikat yang turun, satu diantaranya berkata "Ya allah, berilah ganti orang yang berinfak, dan yang lain berkata "Ya Allah lenyapkan (apa yang ada pada ) orang yang bakhil." ( Bukhari no. 1442)

Pengalaman di lapangan membuktikan bahwa pertolongan akan datang dari Allah setara dengan pengorbanan. Dan rezeki seseorang akan datang sesuai dengan pemberian yang dilakukannya. Barangsiapa yang banyak memberi maka akan diberi banyak dan begitu juga sebaliknya jika pemberiannya sedikit, dan barangsiapa yang menahan maka akan ditahan.

Salah satu buktinya adalah cerita Aisyah,"Ada seseorang miskin yang meminta-minta kepada Aisyah ketika dia berpuasa dan tidak memiliki apa-apa kecuali roti. Dia berkata kepada pembantunya "Berikanlah kepadanya." Pembantunya menjawab,"Anda tidak memiliki apa-apa lagi untuk berbuka." Aisyah menjawab,"Berikan saja kepadanya." Pembantunya pun mengerjakan perintah tersebut. Begitu sore hari tiba, maka kami diberikan hadiah seekor kambing yang membuat kami tercukupi oleh seseorang yang sebelumnya tidak pernah memberikan kami hadiah. Kemudian Aisyah memanggilku dan berkata,"Makanlah ini, karena lebih baik dari sepotong roti."

6. Perisai Adzab dan Jalan Memasuki Surga
Sedekah dan infak di jalan kebaikan merupakan tebusan dari seorang hamba atas pembalasan dan cara melepaskan diri dari siksa. Betapa banyaknya nash yang menceritakan bahwa sedekah merupakan penghalang dan hijab bagi seorang hamba diantara dirinya dengan adzab. Diantaranya hadits berikut ini:
"Siapa saja dari kalian yang dapat menghalangi dari api neraka meskipun dengan sebiji kurma, hendaklah dia melakukannya." (Muslim no. 1016)

Efek sedekah juga dapat menolak rasa takut dan sedih seorang hamba kemudian mendapatkan rasa aman, juga termasuk jalan utama memasuki surga. Allah berfirman:

"Orang-orang yang menafkahkan hartanya di malam dan di siang hari secara tersembunyi dan terang-terangan, Maka mereka mendapat pahala di sisi Tuhannya. tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati." (Al-Baqarah:274)

"Barangsiapa yang menginfakkan zaujain (menginfakkan dua hal dari satu jenis barang) di jalan Allah, dia akan dipanggil dari pintu surga. Wahai hamba Allah, inilah kebaikan - hingga perkataan beliau - barangsiapa yang gemar bersedekah, maka dia akan dipanggil dari pintu sedekah." (Bukhari no. 1898)

7. Tanda Kesungguhan iman, kuatnya keyakinan, dan baik sangka kepada Allah
Harta itu mencondongkan hati dari Allah, karena pada dasarnya jiwa dijadikan untuk cinta pada harta serta pelit. Maka jika jiwanya rela menyedekahkan pada apa yang Allah ridhai, maka hal itu merupakan bukti keimanan dan keyakinan seorang hamba dengan apa yang Allah janjikan dan ancamkan.dan juga bukti kecintaannya yang besar kepada-Nya; karena dia lebih mengedepankan keridhaan allah atas harta yang difithrahkan untuk dicintai.

Rasulullah bersabda:
"Dan sedekah adalah bukti." (Muslim no. 223)

Imam An-Nawawi berkata bahwa sedekah adalah bukti atas iman pelakunya; sesungguhnya orang munafik tidak bersedia bersedekah karena tidak meyakininya. Barangsiapa yang bersedekah maka artinya dia telah membuktikan kebenaran imannya. Al-Qurthubi berkata - setelah menjelaskan  bahwasanya tidak berinfak dan meninggalkan sedekah sedekah karena rasa takut menjadi sedikit adalah termasuk berprasangka buruk kepada Allah, "Jika seorang hamba berhusnuzhzhan (berbaik sangka) kepada Allah bahwa tidak akan takut miskin, maka dia akan diberikan gantinya sebagaimana firmannya "Dan barang apa saja yang kamu nafkahkan, Maka Allah akan menggantinya dan Dia-lah pemberi rezki yang sebaik-baiknya." (Saba: 39)

8. Mensucikan Jiwa Dari Kotoran dan Menghiasinya Dengan Keutamaan
Sedekah dapat mensucikan diri dari kotoran dan membersihkan dari bencana, melindungi dari undangan setan dan keburukan. Diantaranya adalah menjauhkan seorang hamba dari rasa bakhil dan menyaringnya dari rasa pelit, yang mana Allah telah mengabarkan bahwa pencegahan dari bakhil dan pelit merupakan sarana untuk menang sebagaimana firmannya:

"Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang orang yang beruntung." (Al-Hasyr:9)

Rasulullah mengabarkan bahwa rasa pelit itu tidak akan ada bersama selagi masih ada iman di dalam dada seorang hamba:
"Tak pernah berkumpul sifat pelit dan iman dalam hati seorang hamba." (Ahmad no. 8512)

Dengan sedekah maka Allah akan melenyapkan penyakit ujub di dalam jiwa dan berbangga diri pada yang lain tanpa hak. Sedekah juga merupakan sarana untuk tidak mencintai diri diri dengan cara yang tidak dibenarkan dan meredam rasa marah dan egoisme agar tidak terjerembab pada penyembahan harta. Sedekah dapat melunakkan akhlak, mensucikan jiwa, menumbuhkan ruh atas tingginya nilai akhlak dan keutamaannya. Karena di dalam sedekah terdapat pelatihan untuk loyal dan berbuat baik sebagai pembiasaan diri untuk berkorban dan mementingkan orang lain.

9. Pintu Semua Amal Kebaikan

Allah menjadikan sedekah dan infak pada apa yang telah diridhai-Nya sebagai kunci perbuatan baik dan motivasi bagi seorang hamba untuk menggapai segala macam kebaikan. Hal itu dikarenakan harta merupakan sesuatu yang disenangi oleh hati. Maka barangsiapa yang mengedepankan cinta Allah atas dirinya dengan memberikan harta kepada orang yang membutuhkan dan membela agama-Nya, niscaya Allah akan memberikan taufik untuk beramal shalih serta akhlak mulia yang tidak dapat digapai kecuali hanya dengan itu. Dia akan memperoleh jalan yang memudahkannya untuk melakukan amal kebaikan yang lainnya dan dan tidak akan bermaksiat. Allah berfirman:

"Adapun orang yang memberikan (hartanya di jalan Allah) dan bertakwa, dan membenarkan adanya pahala yang terbaik (surga),Maka Kami kelak akan menyiapkan baginya jalan yang mudah." (Al-Lail:5-7)

As-Sa'di berkata dalam tafsirnya,"Maka Kami kelak akan menyiapkan baginya jalan yang mudah" yakni Kami (Allah) akan memudahkan semua hal kebaikan dan memudahkannya untuk meninggalkan keburukan; karena dia telah mengerjakan perkara yang mendatangkan kemudahan, maka Allah pun memudahkannya.

10. Memperoleh Pahala Orang Yang Disedekahi
Betapa bahagianya orang yang bersedekah!! Karena Rasulullah bersabda:
"Barangsiapa yang memberikan makan kepada orang yang berpuasa, maka dia akan dicatatkan ganjaran sebesar orang yang berpuasa tanpa menguranginya sedikitpun."  (Ahmad no. 17033)

"Barangsiapa yang menyiapkan seseorang yang akan berhaji, berperang, menjaga keluarganya, atau memberikan makanan untuk berbuka bagi orang yang berpuasa, maka baginya ganjaran setara dengan mereka tanpa mengurangi sedikit pun ganjarannya." (Baihaqi no. 4121)

Al-Manawi dalam Faidh Al-Qadir berkata perkara ini tidak hanya terbatas pada ibadah ini-ini saja, melainkan mencakup segenap bentuk ibadah yang lainya. Maka barangsiapa yang menolong atas perbuatan ibadah, maka baginya pahala seperti orang yang melakukan ibadah itu.

11. Pahala Itu Sesuai Dengan Jenis Perbuatannya
Barangsiapa menginfakkan sesuatu karena Allah, niscaya Allah akan menggantinya dengan yang lebih baik sesuai dari apa yang diinfakkannya. Kebaikan akan di balas sesuai dengan kebaikan yang serupa.Dia akan memberi sesuai dengan apa yang seorang hamba berikan dan ganjaran yang setimpal.

"Siapa saja seorang muslim yang memberikan pakaian kepada muslim yang telanjang, niscaya Allah akan memberinya pakaian dari hijaunya surga. Dasn siapa saja seorang muslim yang memberikan makan kepada muslim yang lapr, maka Allah akan memberinya makan dari buah di surga. Dan siapa saja seorang muslim yang memberikan air kepada orang yang haus, maka Allah akan memberinya minum dari Ar-Rahiq Al-Makhtum." (Abu Daud No. 1682)

Perkara ini tidak hanya sebatas memberikan ganjaran kepada orang yang bersedekah saja, tetapi juga kepada orang yang disedekahi; karena hanya dengan memasukkan rasa senang ke dalam dirinya, menghapus permasalahannya, melapangkan kesempitan hidupnya, dan memperbaiki keadaannya serta memberikan sumbangannya serta juga menutupi aib dirinya maka dia akan mendapatkan pahala dari Allah yang semisal dengan amalannya. Rasulullah bersabda:

"Barangsiapa yang meringankan kesengsaraan seorang mukmin di dunia, niscaya Allah akan meringankan kesengsaraannya di hari kiamat. Dan barangsiapa yang memudahkan orang yang sedang kesusahan, niscaya Allah akan memudahkannya di dunia dan akhirat. Dan barangsiapa yang menutupi aib seorang muslim, niscaya Allah akan menutupinya juga di dunia dan akhirat. Dan Allah akan selalu menolong hamba-Nya selagi dia bersedia menolong saudaranya." (Muslim no. 2600)

12. Mendapat Naungan di Padang Mahsyar
Di padang mahsyar kelak ketinggian suhu udaranya tidak dapat dibayangkan. Apalgi seorang hamba akan berdiam diri di dalamnya selama lima ratus tahun tanpa makan dan minum, sedangkan matahari jaraknya hanya satu jengkal saja. Sehingga bumi menjadi banjir keringat sekitar tujuh puluh dzira kemudian meninggi dan semua manusia akan berada di atas keringatnya sesuai dengan amal ibadahnya. Ada yang keringatnya hingga mata kaki, lutut, pinggang, bahkan ada yang hingga menenggelamkan dirinya. Orang-orang yang bersedekah akan dinanungi dengan sedekahnya sehingga menghalanginya dari teriknya panas dan melindunginya dari sinar matahari. Rasulullah bersabda:
"Setiap manusia akan bersama lindungan sedekahnya hingga dia dipisahkan dari manusia." (Ahmad no. 17333)

Tidak hanya berhenti sampai di situ saja, bahkan ketika seseorang tengah membebaskan tanggingan orang lain atau merelakannya maka hal itu akan menjadikan naungan kelak di hari kiamat berdasarkan sabda-Nya:
"Barangsiapa yang memudahkan orang yang dihutanginya atau merelakannya, maka dia akan berada di dalam lindungan 'Arsy di hari kiamat."(Ad-Darimy no. 2589)

Dan Rasulullah bersabda:
"Tujuh golongan yang berada di bawah naungan Allah di hari kiamat yang tidak ada nauangan kecuali naunagn-Nya - kemudian beliau menyebutkan satu persatu - dan sekelompok orang yang bersedekah kemudian menyembunyikannya sampai-sampai yang kiri tidak mengetahui apa yang disedekahkan yang kanan." (Bukhari no. 1423)

13. Menyempurnakan Kekurangan Zakat wajib
Allah mewajibkan zakat dan menjadikannya sebagai rukun islam amaliyah yang penting setelah shalat. Allah berfirman:
"dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan ruku'lah beserta orang-orang yang ruku'." (Al-Baqarah:43)

Menilik kedudukan zakat yang begitu pentingnya dan seorang hamba bisa saja kurang sempurna dalam penunaiannya atau lalai untuk mengerjakannya atau salah dalam menghitungnya, maka Alalh telah mensyariatkan - sebagai rahmat dan kasih sayang kepada mereka - sedekah sunnah untuk menggenapi kekurangannya, menambal yang rusak, dan penyempurna kelemahan yang ada.

14. Harta Simpanan Kelak di Hari Kiamat
Di hari kiamat kelak, amalan-amalan akan ditimbang. Maka dari itu, seorang hamba akan sangat membutuhkan amal shalih yang dapat memberatkan timbangannya, agar menjadi sarana kebahagiaan dan kemenangannya. Dan sedekah merupakan amalan yang agung sebagaimana Rasulullah memberitahukan bahwa sedekah akan menjadi simpanannya kelak dan harta karun bagi dirinya. Dia akan mendapatkan harta karun itu tersimpan utuh di sisi Rabb-nya jika kelak dia menghadap-Nya.

"Dan kebaikan apa saja yang kamu perbuat untuk dirimu niscaya kamu memperoleh (balasan)nya di sisi Allah sebagai balasan yang paling baik dan yang paling besar pahalanya." (Al-Muzzammil:20)

15. Pahala Sedekah Tetap Mengalir Meski Pelakunya Telah Meninggal Dunia
Kehidupan seorang hamba adalah ajang cobaan dan tempat untuk untuk bersusah payah. Ketika dia meninggal dunia maka terpotonglah amalnya dan terhentilah segala usahanya, dan amal baiknya tidak akan berkurang bahkan bisa bertambah dengan perbuatan tertentu yang telah diagungkan oleh syariat dan dijelaskan pula oleh nash. Di antara amalan ini adalah sedekah yang terus ada meskipun dia telah meninggal dunia. Rasulullah bersabda:
"Jika seseorang telah meninggal dunia, maka terputuslah amal ibadahnya kecuali tiga perkara - diantaranya- sedekah jariyah." (Muslim no. 1631)

"Sesungguhnya di antara amalan dan kebaikan yang mengikuti seorang mukmin hinga setelah sepeninggalnya - disebutkan diantaranya- adalah dan mushhaf yang diwariskan, masjid yang dibangunnya, rumah untuk ibnu sabil, sungai yang mengalir, atau sedekah yang dia keluarkan dari hartanya ketika dia sehat dan masih hidup kemudian akan ikut hingga dia mati." (Ibnu Majah no. 242)

16. Disyariatkannya Menghadiahkan Pahala Sedekah Untuk Orang Mati
Jika seseorang telah dimasukkan ke dalam kuburnya, maka usahanya telah terhenti dan kehidupan akhiratnya telah dimulai. Maka dari itu, di syariatkan bagi keluarganya atau kerabatnya untuk terus menerus mengantarkan pahala kepadanya karena dia sangat membutuhkan sekali amal ketaatan, yang mana syariat islam telah menjelaskan tentang sampainya pahala itu kepada orang yang telah meninggal dunia. Di antara kebaikan yang sampai pahalanya ke mayat adalah sedekah sebagaimana hadits berikut ini:

"Seorang lelaki berkata kepada nabi,"Ayahku telah meninggal dunia dan meninggalkan harta, namun belum berwasiat. Adakah dia mendapat pahalanya jika saya bersedekah untuknya?" Beliau menjawab,"Ya"" (Ahmad No. 8841)

Dan itu tidak hanya sebatas anak kepada orang tuanya saja, bahkan sedekah dari sahabat juga dapat bermanfaat bagi orang yang telah meninggal dunia sebagaimana yang dijelaskan pada hadits berikut ini:

Watsilah bin al-atsqa berkata:
"Ketika kami bersama Rasulullah pada peperangan tabuk, maka datanglah beberapa orang dari bani salim. Mereka berkata,"Wahai Rasulullah, rekan kami akan mendapat siksa neraka. Rasul menjawab,"Kalian memebebaskan budak niscaya Allah akan membebaskan badannya setiap anggota badan dari budak itu dari api neraka." (Shahih Ibnu Hibban no. 4307)

Bagi para pemilik akhlak yang terpuji dan yang tidak melupakan akan kebaikan orang lain, maka hendaknya membalas kebaikan dengan yang lebih besar dan keutamaannya dengan yang lebih agung. Karena mereka yang berada di alam baka sana sangat membutuhkan kebaikan dan hari-hari pun terus bergulir sebagaimana engkau berhutang dan engkau menghutangi, begitu pula sebagaimana orang tuamu berbuat baik dan orang lain juga berbuat baik. Anakmu kelak juga berbuat baik kepadamu dan kerabatmu serta mereka yang berbuat baik untukmu di dunia.

17. Menutup aib, Memikat Kecintaan dan Pujian serta Doa Manusia
Sedekah dan kebaikan merupakan perisai bagi kehormatan pelakunya, pengampun bagi kesalahannya, penutup aib, dan pemaafan ketidaksengajaannya. Sedekah merupakan sarana untuk mendekatkan diri kepada sesama hamba, mendapatkan simpati mereka, doa serta penghormatan, mendapatkan syukur dan pujian, pelakunya sangat terpuji peninggalannya, disukai oleh yang dekat maupun yang jauh dan didekati oleh yang benci maupun yang ridha. karena dengan amalan itu, maka pemiliknya berarti telah memberikan suatu gadaian kesyukuran, meminjami hutang budi untuk kemudian mendapatkan mahabbah, doa, dan pujian.

Abu Al-Fath al-Busti berkata,"Berbuat baiklah kepada Manusia! Karena hal itu dapat memperbudak hati mereka dan juga karena kebaikan itu dapat memperbudak menusia. Barangsiapa yang loyal dengan hartanya kepada orang lain, maka dia akan menjadi magnet. Karena harta adalah sesuatu yang menarik bagi manusia. Berbuat baiklah selagi bisa, karena kemampuan itu tidak selamanya ada."

18. Jalan Mendapatkan Cinta, Rahmat, dan Ridha Allah
Di dalam sedekah terdapat kebaikan dan rahmat serta keutaman dan kasih sayang. Maka dari itu, sedekah juga menjadi sarana untuk mendapatkan mahabbah Rabb alam semesta, rahmat-Nya dan keridhaan-Nya, karena Allah mencintai orang-orang yang berbuat baik. Allah berfirman:

"Dan belanjakanlah (harta bendamu) di jalan Allah, dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan, dan berbuat baiklah, karena Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik." (Al-Baqarah:195)

Diantara nash yang menjelaskan bahwa sedekah dapat menangkal kemarahan Allah dan mendatangkan kecintaan-Nya adalah:

"Sedekah dalam keadaan diam-diam dapat memadamkan kemarahan Allah." (Ath-Thabrani no. 1033)

19. Perlawanan Seorang Hamba Terhadap Setan
Allah memperingatkan hamba-Nya dari setan dan menjelaskan permusuhan setan atas mereka, janjinya untuk menyesatkan dan memoles cantik kebatilan, dan pekerjaannya -selagi bisa- adalah berusaha membelokkan seorang hamba agar terjerembab ke dalam lembah syahwat dan syubhat; agar mereka taat pada setan, mengikuti jalan hidupnya, tertipu dari kebaikan, dan jauh dari ridha-Nya. Berkaitan dengan sedekah, setan sangat membenci perbuatan tersebut dan menyerunya agar bakhil sebagaimana diterangkan dalam al-Quran:

"Syaitan menjanjikan (menakut-nakuti) kamu dengan kemiskinan dan menyuruh kamu berbuat kejahatan (kikir); sedang Allah menjadikan untukmu ampunan daripada-Nya dan karunia. dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengatahui." (Al-Baqarah:268)

Begitu dia bersedekah, maka artinya dia telah mengalahkan syetan. Rasulullah bersabda:
"Tidaklah seseorang bersedekah dengan sesuatu kecuali dia telah melepaskan tujuh puluh setan dari rahangnya." (Shahih al-Jami no. 5814)

Al-Manawi berkata memberikan alasannya,"Karena sedekah pada dasarnya untuk mengharap ridha Allah semata. Maka dari itu, setan berusaha menghalangi manusia untuk mendapatkan derajat yang tinggi ini. Setan tidak hentinya untuk berusaha menghalangi manusia dari bersedekah. Dan bagi setan, nafsu adalah sasaran utamanya. Karena harta merupakan bagian dari jiwa. Jika dia mampu mengeluarkan hartanya karena nafsu semata, maka itulah yang diinginkan oleh syetan. Ini adalah petunjuk yang kuat atau keistiqamahan, kebenaran niat, dan lurusnya sifat."

20. Lapang Dada
Sedekah dan berbagi manfaat bagi sesama merupakan sarana melapangkan dada dalam meraih kebahagiaan. Ibnu Utsaimin berkata,"Seseorang jika mengorbankan sesuatu terutama hartanya, maka dia akan mendapatkan kelapangan jiwa. Hal ini telah terbukti... Akan tetapi yang dapat merasakannya adalah yang mengeluarkannya dengan suka cita, yaitu dia yang mengeluarkan harta dari hatinya sebelum diberikan melalui tangannya. Adapun mereka yang mengeluarkan harta dari tangannya namun hatinya tidak, maka dia tidak akan mendapatkan faedah dari harta itu. Karena terkadang dia mengeluarkan harta itu semata-mata karena malu kepada yang lain, atau hanya mengeluarkan begitu saja tanpa adanya niat."

Rasulullah memberikan permisalan tentang lapangnya dada seseorang yang bersedekah dan sempitnya seseorang yang bakhil:
"Perumpamaan bagi orang bakhil dan yang bersedekah adalah laksana dua orang yang mengenakan baju besi. Setiap kali orang yang bersedekah itu berinfak, maka baju besi itu akan semakin longgar dan menjadikannya lega. Adapun si bakhil, setiap kali dia ingin berinfak, maka baju besi itu justru mengkerut mengecil dan menggencet tulang selangkanya. Dia berusaha dengan keras untuk melonggarkannya, namun dia tidak bisa." (Bukhari no. 2917)

21. Tetap Mendapatkan Pahala Meski Tidak Sampai Kepada Penerimanya
Setiap ibadah tidak akan diterima kecuali dikerjakan menurut cara yang telah diperintahkan. Dan di dalam sedekah, seorang hamba diperintahkan untuk bersungguh-sungguh dan berupaya menempatkannya dijalan yang lebih utama manfaatnya, juga lebih banyak nilai ibadahnya dan pahalanya. Jika sulit untuk mengusahakannya atau setelah berusaha dengan sungguh-sungguh namun justru keliru dalam menempatkan sedekahnya kepada orang yang tidak berhak menerimanya dan berbuat kebaikan kepada orang yang kurang tepat sementara dia tidak mengetahuinya, maka sedekahnya tetap diterima dan tetap mendapatkan pahala dan juga Allah meridhai kebaikannya. Allah berfirman:

"Dan apa saja harta yang baik yang kamu nafkahkan (di jalan Allah), Maka pahalanya itu untuk kamu sendiri. dan janganlah kamu membelanjakan sesuatu melainkan karena mencari keridhaan Allah. dan apa saja harta yang baik yang kamu nafkahkan, niscaya kamu akan diberi pahalanya dengan cukup sedang kamu sedikitpun tidak akan dianiaya (dirugikan)." (Al-Baqarah: 272)

Ibnu Katsir berkata dalam tafsirnya: Orang yang bersedekah jika sedekahnya semata-mata karena Allah, maka sesungguhnya akan mendapatkan pahala dari Allah dan diberi ganjaran atas tujuannya itu.

Abu Hurairah r.a. berkata bahwa sesungguhnya Rasulullah saw. bersabda, “Seorang laki-laki dari Bani Israil telah berkata, ‘Saya akan bersedekah.’ Maka pada malam hari ia keluar untuk bersedekah. Dan ia telah menyedekahkannya (tanpa sepengetahuannya) ke tangan seorang pencuri. Pada keesokan harinya, orang-orang membicarakan peristiwa itu, yakni ada seseorang yang menyedekahkan hartanya kepada seorang pencuri. Maka orang yang bersedekah itu berkata, “Ya Allah, segala puji bagi-Mu, sedekah saya telah jatuh ke tangan seorang pencuri.” Kemudian ia berkeinginan untuk bersedekah sekali lagi. Kemudian ia bersedekah secara diam-diam, dan ternyata sedekahnya jatuh ke tangan seorang wanita (ia beranggapan bahwa seorang wanita tidaklah mungkin menjadi seorang pencuri). Pada keesokan paginya, orang-orang kembali membicarakan peristiwa semalam, bahwa ada seseorang yang bersedekah kepada seorang pelacur. Orang yang memberi sedekah tersebut berkata, “Ya Allah, segala puji bagi-Mu, sedekah saya telah sampai ke tangan seorang pezina.” Pada malam ketiga, ia keluar untuk bersedekah secara diam-diam, akan tetapi sedekahnya sampai ke tangan orang kaya. Pada keesokan paginya, orang-orang berkata bahwa seseorang telah bersedekah kepada seorang kaya. Orang yang telah memberi sedekah itu berkata, “Ya Allah, bagi-Mu segala puji. Sedekah saya telah sampai kepada seorang pencuri, pezina, dan orang kaya.” Pada malam berikutnya, ia bermimpi bahwa sedekahnya telah dikabulkan oleh Allah. Dalam mimpinya, ia telah diberitahu bahwa wanita yang menerima sedekahnya tersebut adalah seorang pelacur, dan ia melakukan perbuatan yang keji karena kemiskinannya. Akan tetapi, setelah menerima sedekah tersebut, ia berhenti dari perbuatan dosanya. Orang yang kedua adalah orang yang mencuri karena kemiskinannya. Setelah menerima sedekah tersebut, pencuri tersebut berhenti dari perbuatan dosanya. Orang yang ketiga adalah orang yang kaya, tetapi ia tidak pernah bersedekah. Dengan menerima sedekah tersebut, ia telah mendapat pelajaran dan telah timbul perasaan di dalam hatinya bahwa dirinya lebih kaya daripada orang yang memberikan sedekah tersebut. Ia berniat ingin memberikan sedekah lebih banyak dari sedekah yang baru saja ia terima. Kemudian, orang kaya itu mendapat taufik untuk bersedekah.” (Bukhari no. 1421)

22. Manfaat Sedekah Yang Meluas
Manfaat sedekah tidak hanya terbatas pada pelakunya saja, bahkan bermanfaat untuk pribadi  orang lain. Kemudian dari pribadi itu secara bertahap melampaui sosial masyarakat dalam segala aspek kehidupannya. Dan yang paling nampak dari sekian banyak efek sosialnya adalah sebagai berikut:

a. Turut membantu menyelesaikan problematika kemiskinan
Karena dengan sedekah maka kebutuhan kaum lemah serta kelaparan mereka dapat terpenuhi, aurat mereka dapat tertutupi, hutang dan kebutuhan mereka dapat terlunasi, duka mereka dapat terobati, kesulitan mereka dapat teratasi, kehidupan mereka dapat lebih baik, dan adanya rasa riang gembira pada hati mereka dan lain sebagainya dari berbagai perbuatan baik yang dituntut Allah untuk melakukannya.

b. Adanya bentuk kepedulian sosial
Adanya bentuk kepedulian sosial dan rasa kesetiakawanan yang mendalam, menyebar kasih sayang antar pribadi anggota masyarakat islam seakan-akan menjadikan mereka layaknya satu keluarga yang sejajar.

c. Meminimalisir kejahatan
Dari sekian pokok pangkal terjadinya aksi kejahatan adalah kemelaratan. Karena hal itulah yang menggiring seseorang dalam tekanan kebutuhan untuk berbuat sesuatu yang tidak terpuji dan melakukan tindakan terlarang. Bahkan kadang sampai menjadikan sebagian dari mereka saling bermusuhan dan menentang perintah Allah serta tidak rela dengan ketetapan-Nya. Sedekah dan perbuatan baik dapat meminimalisir efek dari semua hal tersebut di atas.

d. Menolong kebenaran dan menjadi penguatnya
Sedekah juga dapat menolong kebenaran dan menjadi penguatnya karena di dalam sedekah terdapat efek nyata dalam penyebaran agama, melaksanakan kegiatan dakwah dan kelimuan, menghindarkan dari prbuatan jelek dan menguatkan fondasi agama.

23. Sedekah Dengan Sebagian Sifat dan Nama Allah
Bagi Allah nama-nama yang baik serta sifat yang luhur. semuanya adalah keparipurnaan, kebaikan dan keagungan. Dan sungguh Allah telah memerintahkan kepada hamba-Nya untuk beribadah dengan menyebut nama dan sifat luhur-Nya juga berbuat dengan mengerjakan sesuai yang telah diperintahkan-Nya. Ibnu Bathal menjelaskan apa yang telah diringkas oleh Ibnu Hajar dalam kitab Fathul Bari yaitu tentang cara beribadah dengan nama Allah dan sifat-Nya serta mengamalkannya. Dia berkata "Cara beramal dengan nama Allah yaitu bahwasanya orang yang benar-benar mengikuti sifat Allah seperti belas kasih maka sesungguhnya Allah senang melihat hamba-Nya berhias dengan nama-Nya. Maka biasakanlah untuk berhias dengan sifat-sifat Allah yang mungkin bisa disifati oleh setiap hamba. Adapun sifat tertentu yang hanya dimiliki oleh Allah saja seperti Dzat Yang Maha Menguasai dan Yang Maha Agung, maka wajib bagi seorang hamba untuk mengakui keberadaan sifat itu hanya bagi-Nya saja dan berpasrah diri dengan-Nya dan juga tidak boleh menghias diri dengan sifat-sifat itu. Adapun sifat yahg didalamnya mengandung ancaman, maka kita berdiam diri dengan penuh rasa takut."

Di dalam bersedekah dan berinfak sesuai dengan apa yang diridhai Allah merupakan kemuliaan, kebaikan, kasih sayang, kesejahteraan, kecintaan, serta syukur dan kelembuatan. Didalamnya adalah perbuatan yang sejalan dengan nama-nama agung Allah Yang Maha Pemurah, Penyayang, Pemberi Kebaikan, Dzat Yang Pengasih, Yang Disyukuri, Dzat Yang Maha Lembut, Dzat yang bersifat dengan makna sifat yang terkandung didalamnya.

24. Mengikuti Petunjuk Rasulullah dan Kemuliaan Umat Beliau

Nabi Muhammad adalah manusia yang paling dermawan dan telah banyak persaksian dari para sahabat, serta telah masyhur di kalangan umat manusia. Diantaranya adalah persaksian Khadijah kepada beliau ketika beliau mendapat wahyu untuk pertama kali,"Sungguh demi Allah, Dia tidak akan menyusahkan engkau selamanya jikalau engkau telah menyambungkan tali persaudaraan, menanggung semuanya, membiayai yang tidak punya, menjamu yang bertamu serta membantu bagi yang sedang kesusahan." (Bukhari no.3)

Kemudian perkataan pembantu beliau, Anas bin Malik,"Rasulullah adalah sebaik-baik manusia. Beliau adalah orang yang paling berani dan dermawan." (Bukhari no. 2820) Kemudian perkataan Jabir,"Tidaklah Rasulullah pernah dimintai tentang sesuatu lalu beliau berkata tidak." (Muslim no. 2311)

Begitu juga dengan para sahabat Rasulullah yang telah mengikuti segala perbuatan beliau dalam hal kedermawanan dan berjalan sebagaimana yang ditunjukkan. Seperti Abu Bakar ash-Shiddiq yang menuurut penuturan Aisyah bahwa beliau wafat tidak meninggalkan dinar dan dirham, semuanya untuk Allah. Begitulah kehidupan mereka yang mengikuti langkah perilaku Nabi Muhammad, yaitu orang-orang yang mengetahui kadar dunia lalu menggunakan secukupnya saja dan menjadikan akhirat sebagai orientasinya. Dan memberikan sedekah serta berinfak dalam hal yang diridhai Allah. Dan juga menolong hamba-Nya, berjalan sesuai dengan petunjuk-Nya, mengikuti arahan sesuai garis, dan mengetahui betapa tinggi derajat dari sedekah itu.

Referensi

Kaifa Tunammi Amwaalaka (Seribu satu Manfaat Sedekah) Karya Faishal bin Ali Al-Ba'daniy

Edisi Revisi:
9 Syawwal 1432 H

7 September 2011 M

+ 16
+ 6
Comments
Add New Search
ari alfiatus salisah   |180.252.254.xxx |2011-10-04 10:22:45
Subhanalah . Saya jadi pengin sedekah
catatan   |SAdministrator |2011-10-06 17:17:48
Alhamdulillah ...
Rivan  - Sedekah itu indah     |180.246.156.xxx |2011-10-08 13:41:25
Subhanallah..btapa besar manfaat sedekah..
catatan   |SAdministrator |2011-10-10 17:50:19
yup.
Write comment
Name:
Email:
 
Website:
Title:
UBBCode:
[b] [i] [u] [url] [quote] [code] [img] 
 
 
:angry::0:confused::cheer:B):evil::silly::dry::lol::kiss::D:pinch:
:(:shock::X:side::):P:unsure::woohoo::huh::whistle:;):s
:!::?::idea::arrow:
 
Please input the anti-spam code that you can read in the image.

3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."

Terakhir Diperbaharui ( Kamis, 08 September 2011 01:56 )  

Tanggal dan Jam


Ulti Clocks content

Browse this website in:


Mutiara Hari Ini

Sungguh aku merasa sangat aneh kepada orang yang membaca Quran sedangkan ia tak mengetahui ta'wilnya (tafsirnya). Bagaimana ia akan menikmati bacaannya? (Ibnu Jarir)

Poling

Apakah artikel-artikel di situs ini bermanfaat untuk anda?

(283 votes)

7.8%
92.2%

Waktu Shalat