I. PENDAHULUAN
Di antara hal yang menyibukkan hati kebanyakan umat islam saat ini adalah bagaimana caranya mendapatkan rezeki. Sejumlah umat Islam memandang berpegang teguh dengan syariat islam akan mengurangi rezeki mereka, bahkan yang lebih ironis lagi dan menyedihkan sekali bahwa masih ada sejumlah orang yang mau menjalankan sebagian kewajiban syariat Islam akan tetapi mereka mengira jika ingin mendapatkan kemudahan di bidang materi dan kemapanan ekonomi hendaknya menutup mata dari sebagian hukum islam, terutama yang berkaitan dengan masalah halal dan haram. Sesungguhnya Allah dan Rasul-Nya yang mulia, tidak akan membiarkan umat islam begitu saja tanpa memberikan petunjuk dalam kegelapan dan keraguan dalam usahanya mencari penghidupan di dunia. Seandainya umat islam mau memahaminya dan menyadarinya serta berpegang teguh dengan syariat islam, niscaya Allah yang maha memberi dan maha memiliki kekuasaan akan memudahkannya mencari jalan untuk memperoleh rezeki yang halal dari setiap arah serta akan dibukakan keberkahan dari langit dan bumi. Di bawah ini adalah tips-tips untuk memperoleh rezeki berdasarkan al-Quran dan hadits.
II. TIPS-TIPS
Berikut adalah tips-tips untuk memperoleh kunci rezeki berdasarkan Al-Quran dan As-Sunnah:
A. Istighfar dan Taubat
1. Hakikat Istighfar dan Taubat
Sebagian besar dari kita menduga bahwa istighfar dan taubat itu keduanya sudah cukup diucapkan dengan lidah saja. Sebenarnya, apabila ada seseorang yang mengucapkan "Astaghfirullah wa atuubu ilaihi", tetapi kalimat itu tidak membekas di dalam hatinya, sebagaimana tidak terlihat pengaruhnya pada anggota tubuhnya, maka ucapan istighfar dan taubatnya itu sama dengan perbuatan orang-orang yang berdusta.
Perlu diketahui bahwa sebenarnya para ulama telah menerangkan kepada kita hakikat istighfar dan taubat. Sebagai contoh, Imam Raghib Al-Ishfahani telah berkata," Arti taubat di dalam Dienul islam adalah meninggalkan dosa karena buruknya perbuatan itu, menyesal karena telah terperosok ke dalamnya, berkeinginan yang kuat untuk tidak mengulanginya, dan berupaya untuk mengerjakan perbuatan yang baik. Apabila keempat macam hal ini telah terkumpul pada diri seseorang , maka syarat bertaubat telah memadai.
Perlu diketahui bahwa sebenarnya para ulama telah menerangkan kepada kita hakikat istighfar dan taubat. Sebagai contoh, Imam Raghib Al-Ishfahani telah berkata," Arti taubat di dalam Dienul islam adalah meninggalkan dosa karena buruknya perbuatan itu, menyesal karena telah terperosok ke dalamnya, berkeinginan yang kuat untuk tidak mengulanginya, dan berupaya untuk mengerjakan perbuatan yang baik. Apabila keempat macam hal ini telah terkumpul pada diri seseorang , maka syarat bertaubat telah memadai.
2. Dalil-Dalil Tentang istighfar dan taubat
a. Dalil I

"Maka aku katakan kepada mereka: 'Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun. Niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat. Dan membanyakkan harta dan anak-anakmu, dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai."(Nuh 10-12)

"Maka aku katakan kepada mereka: 'Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun. Niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat. Dan membanyakkan harta dan anak-anakmu, dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai."(Nuh 10-12)
Ada beberapa penjelasan dari ayat di atas, diantaranya adalah:
a. Allah pasti akan mengampuni segala macam dosa-dosa sebagaimana firman-Nya:
"Sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun."
b. Allah yang menurunkan hujan lebat kepada umat manusia.
Ibnu Abbas berkata " Arti kata midraraa adalah hujan diiringi yang satu dengan yang lain."
c. Allah akan memperbanyak serta melipatgandakan harta benda dan anak keturunan
d. Allah telah menganugerahkan kebun-kebun
e. Allah telah menjadikan sungai-sungai.
Imam al-Qurthubi berkata."Dalam ayat ini dan ayat yang terdapat dalam surat Hud menerangkan bahwa istighfar dapat menurunkan hujan dan rezeki." Ibnu Katsir telah berkata dalam kitab tafsirnya,"Apabila kamu bertaubat kepada Allah, serta memohon ampun kepada-Nya, niscaya Allah akan melimpahkan rezeki kepadamu. menurunkan berkah dari langit, menumbuhkan tanaman bagimu, mencegah mara bahaya darimu, memberimu harta dan anak keturunan, dan menganugerahkan kepadamu kebun buah-buahan yang dikelilingi oleh sungai."
Imam Qurthubi pernah menceritakan tentang kisah imam Hasan al-Bashri yang didengarnya langsung dari Ibnu Shobih, bahwasanya ia telah berkata,"Pada suatu ketika, ada seorang lelaki yand datang kepada Imam Hasan Al-Bashri seraya menceritakan tentang musibah kekeringan yang menimpa wilayahnya. Kemudian Hasan Al-Bashri berkata kepadanya,"Mohon ampunlah kamu kepada Allah." Tak lama kemudian, datang seorang lelaki kepada hasan al-bashri sambil mengadukan kemiskinan yang dideritakan kepadanya. Maka Imam Hasan al-Bashri berkata kepadanya, "Mohon ampunlah kamu kepada Allah." Setelah itu datang lagi seorang lelaki kepada belaiu sambil berkata,"Wahai sang imam, mohonkanlah kepada Allah agar Dia memberiku seorang anak!" Dengan mantap Imam Hasan Al-Bashri berseru kepadanya, "Wahai bapak, mohon ampunlah kamu kepada Allah." Tak lama kemudian, datang seorang lelaki kepada Hasan Al-Bashri sambil mengadukan kepadanya tentang paceklik yang dialami kebunnya. Lalu Imam Hasan Al -Bashri pun berkata kepadanya,"Mohon ampunlah kamu kepada Allah." Dalam suatu riwayat dikatakan bahwasanya Ibnu Shobih pun bertanya kepada Imam Hasan al-Bashri," Wahai imam, anda didatangi oleh beberapa orang yang mengadukan berbagai macam masalah. Tetapi herannya mengapa anda hanya menganjurkan mereka untuk beristighfar saja?" Kemudian beliau pun menjawab,"Wahai sahabatku, sebenarnya apa yang aku anjurkan itu bukanlah berdasarkan pendapat pribadiku. Akan tetapi, sebenarnya Allah telah berfirman dalam al-quran: "Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun. Niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat. Dan membanyakkan harta dan anak-anakmu, dan Mengadakan untukmu kebun-kebun dan Mengadakan (pula didalamnya) untukmu sungai-sungai."(Nuh 10-12)
b. Dalil II

"Dan (dia berkata): "Hai kaumku, mohonlah ampun kepada Tuhanmu lalu bertobatlah kepada-Nya, niscaya Dia menurunkan hujan yang sangat deras atasmu, dan Dia akan menambahkan kekuatan kepada kekuatanmu, dan janganlah kamu berpaling dengan berbuat dosa." (Hud:52)
Ibnu Katsir menerangkan penjelasan ayat tersebut diatas dalam kitab tafsirnya,"Kemudian Nabi Hud memerintahkan kaumnya untuk beristighfar sebagai penghapus dosa-dosa yang telah lalu dan bertaubat terhadap segala macam perbuatan dosa yang akan dihadapi kelak. Maka barang siapa yang memiliki sifat seperti ini, niscaya Allah akan melapangkan rezekinya, memudahkan perkaranya, dan memelihara kondisinya. Oleh karena itu Allah berfirman, "Niscaya Dia akan menurunkan hujan yang sangat deras atasmu."
c. Dalil III

"Dan hendaklah kamu meminta ampun kepada Tuhanmu dan bertaubat kepada-Nya. (Jika kamu mengerjakan yang demikian), niscaya Dia akan memberi kenikmatan yang baik (terus menerus) kepadamu sampai kepada waktu yang telah ditentukan dan Dia akan memberikan kepada tiap-tiap orang yang mempunyai keutamaan (balasan) keutamaannya. Jika kamu berpaling, Maka Sesungguhnya aku takut kamu akan ditimpa siksa hari kiamat." (Huud:3).
Imam Qurthubi telah mengatakan dalam kitab tafsirnya,"Ini merupakan buah istighfar dan taubat. Yaitu bahwasanya Allah akan menganugerahkan rezeki yang luas, kelapangan hati dan kebahagiaan hidup. Tentunya, Allah tidak akan menyiksamu dengan azab yang pedih sebagaimana Dia pernah timpakan kepada sebelummu."
d. Dalil IV
Hadist dari Ibnu Abbas, bahwa ia telah berkata: Rasulullah telah bersabda:"Barang siapa yang sering membaca istighfar, niscaya Allah akan menghilangkan segala kegundahannya dan kesusahannya, serta dikaruniakan dengan rezeki yang tidak terduga." (Abu Daud)
Dalam hadits yang mulia ini Rasulullah menerangkan bahwa ada tiga buah yang akan dapat diperoleh oleh orang yang sering mengucapkan istighfar diantaranya adalah rezeki Allah yang diberikan kepadanya dan ia sendiri tidak mengetahui dari mana asal mula rezeki tersebut.
Ibnu Katsir menerangkan penjelasan ayat tersebut diatas dalam kitab tafsirnya,"Kemudian Nabi Hud memerintahkan kaumnya untuk beristighfar sebagai penghapus dosa-dosa yang telah lalu dan bertaubat terhadap segala macam perbuatan dosa yang akan dihadapi kelak. Maka barang siapa yang memiliki sifat seperti ini, niscaya Allah akan melapangkan rezekinya, memudahkan perkaranya, dan memelihara kondisinya. Oleh karena itu Allah berfirman, "Niscaya Dia akan menurunkan hujan yang sangat deras atasmu."
c. Dalil III

"Dan hendaklah kamu meminta ampun kepada Tuhanmu dan bertaubat kepada-Nya. (Jika kamu mengerjakan yang demikian), niscaya Dia akan memberi kenikmatan yang baik (terus menerus) kepadamu sampai kepada waktu yang telah ditentukan dan Dia akan memberikan kepada tiap-tiap orang yang mempunyai keutamaan (balasan) keutamaannya. Jika kamu berpaling, Maka Sesungguhnya aku takut kamu akan ditimpa siksa hari kiamat." (Huud:3).
Imam Qurthubi telah mengatakan dalam kitab tafsirnya,"Ini merupakan buah istighfar dan taubat. Yaitu bahwasanya Allah akan menganugerahkan rezeki yang luas, kelapangan hati dan kebahagiaan hidup. Tentunya, Allah tidak akan menyiksamu dengan azab yang pedih sebagaimana Dia pernah timpakan kepada sebelummu."
d. Dalil IV
Hadist dari Ibnu Abbas, bahwa ia telah berkata: Rasulullah telah bersabda:"Barang siapa yang sering membaca istighfar, niscaya Allah akan menghilangkan segala kegundahannya dan kesusahannya, serta dikaruniakan dengan rezeki yang tidak terduga." (Abu Daud)
Dalam hadits yang mulia ini Rasulullah menerangkan bahwa ada tiga buah yang akan dapat diperoleh oleh orang yang sering mengucapkan istighfar diantaranya adalah rezeki Allah yang diberikan kepadanya dan ia sendiri tidak mengetahui dari mana asal mula rezeki tersebut.
B. Taqwa
1. Pengertian Taqwa
Imam Raghib Al-Ishfahani memberikan definisi taqwa yaitu memelihara diri dari segala sesuatu yang dapat mengotori diri dengan jalan meninggalkan hal yang dilarang. Ketaqwaan seseorang dapat menjadi sempurna, manakala ia dapat meninggalkan beberapa hal yang bersifat mubah. Sementara itu, Imam Nawawi memberikan definisi taqwa yaitu mematuhi segala perintah Allah dan larangan Allah. Artinya upaya melindungi diri dari kebencian dan azab Allah.
2. Dalil-Dalil Tentang Taqwa
a. Dalil I

"Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya." (Ath-Thalaq:2-3)
Ibnu Katsir berkata dalam kitab tafsirnya,"Barangsiapa yang bertaqwa kepada Allah yaitu dengan menjalankan segala perintah-Nya dan meninggalkan segala larangan-Nya, niscaya ällah akan memberikan jalan keluar baginya serta menganugerahkan rezeki kepadanya dari sesuatu yang tidak pernah terbetik dalam hatinya."
b. Dalil II

"Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya."(Al-A'raf:96)
Ibnu Abbas berkomentar terhadap firman Allah yang berbunyi Lafatahnaa 'alaihim barakaatim minassamai i wal ardhi, yaitu bahwasanya Kami (Allah) pasti akan menambahkan kebajikan serta memudahkan rezeki bagi mereka dalam segala hal. Syaikh Yahya bin Umar Al-Andalusi mengatakan, "Allah menyatakan bahwa seandainya mereka, ahlu kitab, mau melaksanakan ajaran yang terdapat dalam kitab Taurat, Injil, dan al-quran, niscaya mereka akan memperoleh berkah dan kenikmatan yang sempurna dari Allah.” Oleh karena itu barangsiapa yang ingin dilapangkan rezekinya dan dimudahkan kehidupannya, maka ia harus menjaga dirinya agar tidak terjerumus ke dalam jurang kenistaan yaitu dengan cara menaati perintah Allah, menjauhi larangannya dan memelihara dirinya dari segala perbuatan dosa.
Imam Raghib Al-Ishfahani memberikan definisi taqwa yaitu memelihara diri dari segala sesuatu yang dapat mengotori diri dengan jalan meninggalkan hal yang dilarang. Ketaqwaan seseorang dapat menjadi sempurna, manakala ia dapat meninggalkan beberapa hal yang bersifat mubah. Sementara itu, Imam Nawawi memberikan definisi taqwa yaitu mematuhi segala perintah Allah dan larangan Allah. Artinya upaya melindungi diri dari kebencian dan azab Allah.
2. Dalil-Dalil Tentang Taqwa
a. Dalil I

"Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya." (Ath-Thalaq:2-3)
Ibnu Katsir berkata dalam kitab tafsirnya,"Barangsiapa yang bertaqwa kepada Allah yaitu dengan menjalankan segala perintah-Nya dan meninggalkan segala larangan-Nya, niscaya ällah akan memberikan jalan keluar baginya serta menganugerahkan rezeki kepadanya dari sesuatu yang tidak pernah terbetik dalam hatinya."
b. Dalil II

"Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya."(Al-A'raf:96)
Ibnu Abbas berkomentar terhadap firman Allah yang berbunyi Lafatahnaa 'alaihim barakaatim minassamai i wal ardhi, yaitu bahwasanya Kami (Allah) pasti akan menambahkan kebajikan serta memudahkan rezeki bagi mereka dalam segala hal. Syaikh Yahya bin Umar Al-Andalusi mengatakan, "Allah menyatakan bahwa seandainya mereka, ahlu kitab, mau melaksanakan ajaran yang terdapat dalam kitab Taurat, Injil, dan al-quran, niscaya mereka akan memperoleh berkah dan kenikmatan yang sempurna dari Allah.” Oleh karena itu barangsiapa yang ingin dilapangkan rezekinya dan dimudahkan kehidupannya, maka ia harus menjaga dirinya agar tidak terjerumus ke dalam jurang kenistaan yaitu dengan cara menaati perintah Allah, menjauhi larangannya dan memelihara dirinya dari segala perbuatan dosa.
C. Tawakal
1. Pengertian Tawakal
Al-Malla Ali Al-Qori menjelaskan arti tawakal kepada Allah dengan sebenar-benarnya tawakal yaitu Kamu meyakini seyakin-yakinnya bahwa tiada yang menciptakan alam semesta selain Allah. Maka penciptaan, rezeki, bahaya, manfaat, kemiskinan, kekayaan, sehat, sakit, dan lain sebagainya adalah ciptaan Allah semata.
2. Dalil-Dalil Tentang Taqwa
a. Dalil I
Bahwa Rasulullah bersabda,"Kalau seandainya kamu bertawakkal kepada Allah dengan sebenar-benarnya, maka kamu akan dilimpahkan rezeki sebagaimana burung-burung yang diberi rezeki. Mereka terbang di pagi hari dalam keadaan lapar dan pulang di sore hari dalam keadaan kenyang." (Tirmidzi)
Dalam hadits yang singkat ini, Rasulullah menjelaskan bahwa orang yang bertawakal kepada Allah dengan sungguh-sungguh pasti akan diberi rezeki sebagaimana burung-burung ciptaan-Nya, yang meskipun makhluk lemah, tetapi tetap diberi rezeki. Bagaimana mungkin akan ditelantarkan sedangkan ia sendiri telah bertawakkal kepada Dzat yang maha hidup dan tidak pernah mati. Barangsiapa yang bertawakal kepada Allah, maka Dia pasti akan mecukupkan segala kebutuhannya.
b. Dalil II
Al-Malla Ali Al-Qori menjelaskan arti tawakal kepada Allah dengan sebenar-benarnya tawakal yaitu Kamu meyakini seyakin-yakinnya bahwa tiada yang menciptakan alam semesta selain Allah. Maka penciptaan, rezeki, bahaya, manfaat, kemiskinan, kekayaan, sehat, sakit, dan lain sebagainya adalah ciptaan Allah semata.
2. Dalil-Dalil Tentang Taqwa
a. Dalil I
Bahwa Rasulullah bersabda,"Kalau seandainya kamu bertawakkal kepada Allah dengan sebenar-benarnya, maka kamu akan dilimpahkan rezeki sebagaimana burung-burung yang diberi rezeki. Mereka terbang di pagi hari dalam keadaan lapar dan pulang di sore hari dalam keadaan kenyang." (Tirmidzi)
Dalam hadits yang singkat ini, Rasulullah menjelaskan bahwa orang yang bertawakal kepada Allah dengan sungguh-sungguh pasti akan diberi rezeki sebagaimana burung-burung ciptaan-Nya, yang meskipun makhluk lemah, tetapi tetap diberi rezeki. Bagaimana mungkin akan ditelantarkan sedangkan ia sendiri telah bertawakkal kepada Dzat yang maha hidup dan tidak pernah mati. Barangsiapa yang bertawakal kepada Allah, maka Dia pasti akan mecukupkan segala kebutuhannya.
b. Dalil II

"Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya." (Ath-Thalaq:3)
Ar-Rabi bin Khutsaim berkata dalam kitab tafsirnya,"Dari segala sesuatu yang menyulitkan manusia."
3. Bertawakkal=Meninggalkan Usaha?
Sebagian kaum muslimin berpendapat,"Karena orang yang bertawakal kepada Allah itu pasti akan diberikan rezeki, maka kita tidak perlu berusaha dan bersusah payah untuk mencari sesuap nasi. bahkan, boleh jadi kita hanya duduk termangu dan bermalas-malasan hingga akhirnya rezeki turun dari langit kepada kita." Sekilas kita dapat menangkap bahwa pendapat ini menunjukkan akan kebodohan orang yang mengatakannya terhadap arti tawakal yang sesungguhnya. Sebenarnya Rasulullah mengumpamakan orang yang bertwakal dan tetap diiberi rezeki itu seperti burung yang pergi pada pagi hari untuk mencari makan dan pulang di sore hari dikarenakan ia tidak mempunyai ladang untuk bercocok tanam, tempat untuk untuk berniaga, ataupun pabrik untuk bekerja. Akan tetapi, uniknya burung tersebut tetap bertawakal kepada Allah."
Imam Ahmad pernah berkata,"Dalam hadits Nabi yang telah disebut di atas tidak ada ungkapan yang menunjukkan tentang perintah menunggalkan usaha. Bahkan dalam hadits Nabi tersebut ada anjuran untuk selalu berupaya mencari rezeki. Sebenarnya, Rasulullah hanya bermaksud bahwa kalau seandainya mereka, kaum muslimin, bertawakal kepada Allah ketika mereka berangkat dan pulang bekerja, selain itu mereka pun yakin bahwa segala kebaikan itu ada di tangan Allah, niscaya mereka pulang dengan membawa hasil yang banyak dan penuh keberkahan.
Pada suatu ketika Imam Ahmad pernah ditanya tentang seorang lelaki yang hanya tinggal di rumah dan menetap di masjid seraya berkata,"Aku tidak akan berupaya apapun hingga datang rezeki kepadaku. Lalu imam ahmad menjawab,"Orang ini adalah orang yang bodoh. Bukankah Rasulullah telah bersabda,"Sesungguhnya Allah menjadikan rezekiku berada di bawah bayang-bayang tombak." Kemudian beliau berkata,"Kalau kamu bertawakal kepada Allah dengan sebenar-benarnya, niscaya Dia akan memberikan rezeki sebagaimana burung-burung yang terbang di pagi hari hari untuk mencari makan dan pulang di sore hari dalam keadaan kenyang." Maka imam Ahmad menerangkan kepadanya bahwa burung-burung itu terbang untuk mencari rezeki. Setelah itu ia meneruskan ucapannya seraya berkata,"Dan para sahabat berniaga dan bekerja agar dapat menjadi suri tauladan." Hadits lain yang menerangkan bahwa bertawakal kepada Allah tidak berarti harus meninggalkan usaha adalah hadits berikut ini:
"Seorang lelaki pernah bertanya kepada Rasulullah,"Cukupkah saya melepas unta saya dan setelah itu saya bertawakal kepada Allah?" Rasulullah menjawab,"Ikat Untamu itu dan setelah itu bertawakal kepada Allah." (Tirmidzi)
D. Mengkonsentrasikan Diri Untuk Beribadah Hanya Kepada Allah
1. Pengertian Mengkonsentrasikan Diri
Jangan sampai ada seorang pun diantara kaum muslimin yang menduga bahwa yang dimaksud dengan mengkonsentrasikan diri untuk beribadah adalah meninggalkan usaha dalam mencari rezeki dan hanya mementingkan diri untuk berdiam di dalam masjid. Akan tetapi arti yang sebenarnya adalah hadirnya hati dan diri seorang hamba pada saat beribadah dengan penuh kekhusyuan seraya bermunajat kepada Allah. Oleh karena itu, ada hadits Nabi yang berbunyi:
"Kamu menyembah Allah seakan-akan kamu melihat-Nya. Dan jika kamu tidak melihat-Nya, maka sesungguhnya Dia pasti melihatmu." (Muslim)
2. Dalil-Dalil
a. Dalil I
Sesungguhnya Allah berfirman,"Hai Bani Adam, konsentrasikanlah dirimu untuk beribadah kepada-Ku, niscaya Aku akan isi hatimu dengan kekayaan dan Aku akan tutup hatimu dari kemiskinan.Jika kamu tidak melaksaakan hal itu, maka Aku akan penuhi hatimu dengan segala kesibukan serta tidak Aku tutup kemiskinan dari hatimu." (Tirmidzi)
Dalam hadits tersebut Rasulullah menerangkan bahwa Allah menjanjikan dua balasan bagi orang yang mengkonsentrasikan dirinya untuk beribadah yaitu Allah akan mengisi hatinya dengan kekayaan dan mencukupi kebutuhannya dari orang lain. Dan juga Allah mengancam kepada orang yang tidak mengkonsentrasikan dirinya untuk beribad kepada-Nya dengan dua siksaan yaitu Allah akan menimpakan kesibukan dan ia pasti akan merasa membutuhkan pertolongan dari orang lain.
b. Dalil II
Rasulullah bersabda,'Rabbmu telah berfirman,"Hai Bani Adam, konsentrasikanlah dirimu untuk beribadah kepada-Ku, niscaya Aku akan isi hatimu dengan kekayaan dan Aku penuhi tanganmu dengan rezeki! hai Bani Adam, janganlah kamu menjauhi Aku! karena jika kamu berusaha untuk menjauhi-Ku, niscaya Aku akan penuhi hatimu dengan kemiskinan dan aku akan isi tanganmu dengan kesibukan." (Imam abu abdullah Hakim, al-Mustadrak 'ala shahihain, kitabur riqaaq, jilid 4, hal.326)
Dalam hadits diatas, Rasulullah menerangkan janji Allah kepada orang-orang yang mengkonsentrasikan dirinya untuk beribadah kepada Allah yaitu Allah akan memenuhi hatinya dengan kekayaan dan tangannya dengan rezeki. Di dalam hadits tesebut juga diterangkan ancaman Allah kepada orang yang tidak mengkonsentrasikan dirinya untuk beribadah kepada-Nya dengan kemiskinan dan kesibukan.
E. Menyertakan Ibadah haji dengan umrah secara berkesinambungan
1. Pengertian
Syaikh abu hasan as-sanadi menerangkan maksud dari kata menyertakan antara haji dengan umrah yaitu,"Jadikanlah salah satu dari keduanya menyertai yang lain setelahnya. Yaitu apabila kamu telah melaksanakan ibadah haji, maka laksanakanlah umrah. Sebaliknya jika kamu telah melaksanakan umrah, maka lasksanakanlah haji secara berurutan."
2. Dalil-Dalil
a. Dalil I
"Sertakanlah ibadah haji dengan umrah secara berkesinambungan. Karena sesungguhnya kedua ibadah tersebut dapat menghilangkan kemiskinan dan dosa-dosa sebagaimana alat pandai besi menghilangkan karat pada besi, emas, dan perak. Sedangkan haji mabrur itu ganjarannya hanyalah surga." (Tirmidzi nomor 807)
Dalam hadits yang singkat ini, Rasulullah menerangkan bahwa buah dari melaksanakan ibadah haji atau umrah secara berkesinambungan adalah menghilangkan kemiskinan dan dosa-dosa.
b. Dalil II
"Hubungkanlah ibadah haji dengan umrah karena keduanya dapat menghapuskan kemiskinana dan dosa-dosa sebagaimana alat pandai besi dapat menghilangkan kotoran besi." (Nasai)
Oleh karena itu, bagi siapa yang ingin menghilangkan kemiskinan dan dosa-dosa, maka ia harus segera melaksanakan haji dan umrah secara berkesinambungan.
F. Silaturahim
1. Pengertian Silaturahim
Sebenarnya, yang dimaksud dengan rahim adalah para kerabat. Ibnu Hajar berkata bahwa yang disebut dengan rahim adalah para saudara dan kerabat terekat, apakah di antara mereka masih ada keturunan atau pun tidak; masih ada hubungan mahram atau pun tidak. Sementara al-Malla al-Qari menyatakan bahwa silaturahim merupakan ungkapan lain untuk berbuat baik dan kasih sayang kepada kaum kerabat, baik itu dari pihak satu keturunan atau pun karena adanya tali persaudaraan lantaran pernikahan (berbesanan).
2. Dalil-Dalil
a. Dalil I
"Barangsiapa yang bergembira jika dilapangkan rezekinya dan dipanjangkan umrnya, maka sambunglah tali silaturahim." (Bukhari)
b. Dalil II
"Barang siapa yang ingin dilapangkan rezekinya dan dipanjangkan umurnya, maka sambunglah tali silaturahim." (Bukhari)
Kedua hadits Nabi di atas menerangkan kepada kita, kaum muslimin, bahwa hasil dari silaturahim adalah lapang dalam rezeki dan panjang umur.
c. Dalil III
"Pelajarilah garis keturunanmu agar kamu dapat bersilaturahim kepadanya. Karena, bagaimanapun, silaturahim itu akan menyebabkan kecintaan pada keluarga, kekayaan dalam harta benda, dan panjang umum." (Tirmidzi)
Dalam hadits di atas, Rasulullah menerangkan kepada kita bahwasanya silaturahim itu memiliki tiga keuntungan dan salah satunya adalah menambah rezeki.
d. Dalil IV
"Barang siapa yang ingin dipanjangkan umurnya, dilapangkan rezekinya, dan dihindarkan kematian yang buruk, maka bertaqwalah kepada Allah dan hubungkanlah tali silaturahim."
(Thabrani)
Dalam hadits yang singkat ini, Rasululullah mengatakan bahwa ada tiga keuntungan yang akan terealisasi pada diri orang yang memilki dua sifat terpuji yaitu taqwa kepada Allah dan suka menyambung silaturahim.
e. Dalil V
"Barang siapa yang bertaqwa kepada Rabb-Nya dan menyambung tali silaturahim, maka umurnya akan dipanjangkan, hartanya akan dilimpahkan, dan dicintai keluarganya." (Bukhari)
f. Dalil VI
"Ketaatan yang paling cepat ganjaran pahalanya adalah silaturahim. Bahkan, jika ada anggota keluarga yang selalu berbuat jahat, tetapi ia sering bersilaturahim, niscaya hartanya akan bertambah dan banyak kawannya. Orang yang rajin bersilaturahim itu tidak akan pernah merasa kekurangan." (Ibnu Hibban)
3. Apa saja sarana Silaturahim?
Tak dapat dipungkiri bahwa sebagian orang menduga bahwa silaturahim itu dapat terjalin dengan baik apabila dikaitkan dengan harta. Akan tetapi sebenarnya dugaan tersebut kurang tepat. Imam Ibnu Abu Hamzah pernah mengatakan,"Silaturahim itu dapat terjalin dengan adanya harta, atau menolong ketika dibutuhkan, mencegah dari bahaya, muka yang berseri-seri, dan dengan doa. Maka dapat disimpulkan bahwa silaturahim itu adalah berbuat kepada orang lain dan mencegah mereka dari mara bahaya sesuai dengan kemampuan yang dimiliki."
4. Tata cara bersilaturahim denagn orang-orang kafir.
Ada sebagian orang yang keliru memahami cara bersilaturahim denagn orang-orang kafir ataupun orang yang sering berbuat maksiat yaitu dengan disertai dengan rasa kecintaan, saling balas kasih sayang, berakrab-akrab dengan mereka, dan lain sebagainya. Tentunya ini pendapat yang keliru. Tentunya kita ketahui bersama bahwa islam sangat menganjurkan umatnya untuk berbuat baik kepada siapa saja termasuk orang-orang kafir sekalipun.
Allah berfirman:
Ar-Rabi bin Khutsaim berkata dalam kitab tafsirnya,"Dari segala sesuatu yang menyulitkan manusia."
3. Bertawakkal=Meninggalkan Usaha?
Sebagian kaum muslimin berpendapat,"Karena orang yang bertawakal kepada Allah itu pasti akan diberikan rezeki, maka kita tidak perlu berusaha dan bersusah payah untuk mencari sesuap nasi. bahkan, boleh jadi kita hanya duduk termangu dan bermalas-malasan hingga akhirnya rezeki turun dari langit kepada kita." Sekilas kita dapat menangkap bahwa pendapat ini menunjukkan akan kebodohan orang yang mengatakannya terhadap arti tawakal yang sesungguhnya. Sebenarnya Rasulullah mengumpamakan orang yang bertwakal dan tetap diiberi rezeki itu seperti burung yang pergi pada pagi hari untuk mencari makan dan pulang di sore hari dikarenakan ia tidak mempunyai ladang untuk bercocok tanam, tempat untuk untuk berniaga, ataupun pabrik untuk bekerja. Akan tetapi, uniknya burung tersebut tetap bertawakal kepada Allah."
Imam Ahmad pernah berkata,"Dalam hadits Nabi yang telah disebut di atas tidak ada ungkapan yang menunjukkan tentang perintah menunggalkan usaha. Bahkan dalam hadits Nabi tersebut ada anjuran untuk selalu berupaya mencari rezeki. Sebenarnya, Rasulullah hanya bermaksud bahwa kalau seandainya mereka, kaum muslimin, bertawakal kepada Allah ketika mereka berangkat dan pulang bekerja, selain itu mereka pun yakin bahwa segala kebaikan itu ada di tangan Allah, niscaya mereka pulang dengan membawa hasil yang banyak dan penuh keberkahan.
Pada suatu ketika Imam Ahmad pernah ditanya tentang seorang lelaki yang hanya tinggal di rumah dan menetap di masjid seraya berkata,"Aku tidak akan berupaya apapun hingga datang rezeki kepadaku. Lalu imam ahmad menjawab,"Orang ini adalah orang yang bodoh. Bukankah Rasulullah telah bersabda,"Sesungguhnya Allah menjadikan rezekiku berada di bawah bayang-bayang tombak." Kemudian beliau berkata,"Kalau kamu bertawakal kepada Allah dengan sebenar-benarnya, niscaya Dia akan memberikan rezeki sebagaimana burung-burung yang terbang di pagi hari hari untuk mencari makan dan pulang di sore hari dalam keadaan kenyang." Maka imam Ahmad menerangkan kepadanya bahwa burung-burung itu terbang untuk mencari rezeki. Setelah itu ia meneruskan ucapannya seraya berkata,"Dan para sahabat berniaga dan bekerja agar dapat menjadi suri tauladan." Hadits lain yang menerangkan bahwa bertawakal kepada Allah tidak berarti harus meninggalkan usaha adalah hadits berikut ini:
"Seorang lelaki pernah bertanya kepada Rasulullah,"Cukupkah saya melepas unta saya dan setelah itu saya bertawakal kepada Allah?" Rasulullah menjawab,"Ikat Untamu itu dan setelah itu bertawakal kepada Allah." (Tirmidzi)
D. Mengkonsentrasikan Diri Untuk Beribadah Hanya Kepada Allah
1. Pengertian Mengkonsentrasikan Diri
Jangan sampai ada seorang pun diantara kaum muslimin yang menduga bahwa yang dimaksud dengan mengkonsentrasikan diri untuk beribadah adalah meninggalkan usaha dalam mencari rezeki dan hanya mementingkan diri untuk berdiam di dalam masjid. Akan tetapi arti yang sebenarnya adalah hadirnya hati dan diri seorang hamba pada saat beribadah dengan penuh kekhusyuan seraya bermunajat kepada Allah. Oleh karena itu, ada hadits Nabi yang berbunyi:
"Kamu menyembah Allah seakan-akan kamu melihat-Nya. Dan jika kamu tidak melihat-Nya, maka sesungguhnya Dia pasti melihatmu." (Muslim)
2. Dalil-Dalil
a. Dalil I
Sesungguhnya Allah berfirman,"Hai Bani Adam, konsentrasikanlah dirimu untuk beribadah kepada-Ku, niscaya Aku akan isi hatimu dengan kekayaan dan Aku akan tutup hatimu dari kemiskinan.Jika kamu tidak melaksaakan hal itu, maka Aku akan penuhi hatimu dengan segala kesibukan serta tidak Aku tutup kemiskinan dari hatimu." (Tirmidzi)
Dalam hadits tersebut Rasulullah menerangkan bahwa Allah menjanjikan dua balasan bagi orang yang mengkonsentrasikan dirinya untuk beribadah yaitu Allah akan mengisi hatinya dengan kekayaan dan mencukupi kebutuhannya dari orang lain. Dan juga Allah mengancam kepada orang yang tidak mengkonsentrasikan dirinya untuk beribad kepada-Nya dengan dua siksaan yaitu Allah akan menimpakan kesibukan dan ia pasti akan merasa membutuhkan pertolongan dari orang lain.
b. Dalil II
Rasulullah bersabda,'Rabbmu telah berfirman,"Hai Bani Adam, konsentrasikanlah dirimu untuk beribadah kepada-Ku, niscaya Aku akan isi hatimu dengan kekayaan dan Aku penuhi tanganmu dengan rezeki! hai Bani Adam, janganlah kamu menjauhi Aku! karena jika kamu berusaha untuk menjauhi-Ku, niscaya Aku akan penuhi hatimu dengan kemiskinan dan aku akan isi tanganmu dengan kesibukan." (Imam abu abdullah Hakim, al-Mustadrak 'ala shahihain, kitabur riqaaq, jilid 4, hal.326)
Dalam hadits diatas, Rasulullah menerangkan janji Allah kepada orang-orang yang mengkonsentrasikan dirinya untuk beribadah kepada Allah yaitu Allah akan memenuhi hatinya dengan kekayaan dan tangannya dengan rezeki. Di dalam hadits tesebut juga diterangkan ancaman Allah kepada orang yang tidak mengkonsentrasikan dirinya untuk beribadah kepada-Nya dengan kemiskinan dan kesibukan.
E. Menyertakan Ibadah haji dengan umrah secara berkesinambungan
1. Pengertian
Syaikh abu hasan as-sanadi menerangkan maksud dari kata menyertakan antara haji dengan umrah yaitu,"Jadikanlah salah satu dari keduanya menyertai yang lain setelahnya. Yaitu apabila kamu telah melaksanakan ibadah haji, maka laksanakanlah umrah. Sebaliknya jika kamu telah melaksanakan umrah, maka lasksanakanlah haji secara berurutan."
2. Dalil-Dalil
a. Dalil I
"Sertakanlah ibadah haji dengan umrah secara berkesinambungan. Karena sesungguhnya kedua ibadah tersebut dapat menghilangkan kemiskinan dan dosa-dosa sebagaimana alat pandai besi menghilangkan karat pada besi, emas, dan perak. Sedangkan haji mabrur itu ganjarannya hanyalah surga." (Tirmidzi nomor 807)
Dalam hadits yang singkat ini, Rasulullah menerangkan bahwa buah dari melaksanakan ibadah haji atau umrah secara berkesinambungan adalah menghilangkan kemiskinan dan dosa-dosa.
b. Dalil II
"Hubungkanlah ibadah haji dengan umrah karena keduanya dapat menghapuskan kemiskinana dan dosa-dosa sebagaimana alat pandai besi dapat menghilangkan kotoran besi." (Nasai)
Oleh karena itu, bagi siapa yang ingin menghilangkan kemiskinan dan dosa-dosa, maka ia harus segera melaksanakan haji dan umrah secara berkesinambungan.
F. Silaturahim
1. Pengertian Silaturahim
Sebenarnya, yang dimaksud dengan rahim adalah para kerabat. Ibnu Hajar berkata bahwa yang disebut dengan rahim adalah para saudara dan kerabat terekat, apakah di antara mereka masih ada keturunan atau pun tidak; masih ada hubungan mahram atau pun tidak. Sementara al-Malla al-Qari menyatakan bahwa silaturahim merupakan ungkapan lain untuk berbuat baik dan kasih sayang kepada kaum kerabat, baik itu dari pihak satu keturunan atau pun karena adanya tali persaudaraan lantaran pernikahan (berbesanan).
2. Dalil-Dalil
a. Dalil I
"Barangsiapa yang bergembira jika dilapangkan rezekinya dan dipanjangkan umrnya, maka sambunglah tali silaturahim." (Bukhari)
b. Dalil II
"Barang siapa yang ingin dilapangkan rezekinya dan dipanjangkan umurnya, maka sambunglah tali silaturahim." (Bukhari)
Kedua hadits Nabi di atas menerangkan kepada kita, kaum muslimin, bahwa hasil dari silaturahim adalah lapang dalam rezeki dan panjang umur.
c. Dalil III
"Pelajarilah garis keturunanmu agar kamu dapat bersilaturahim kepadanya. Karena, bagaimanapun, silaturahim itu akan menyebabkan kecintaan pada keluarga, kekayaan dalam harta benda, dan panjang umum." (Tirmidzi)
Dalam hadits di atas, Rasulullah menerangkan kepada kita bahwasanya silaturahim itu memiliki tiga keuntungan dan salah satunya adalah menambah rezeki.
d. Dalil IV
"Barang siapa yang ingin dipanjangkan umurnya, dilapangkan rezekinya, dan dihindarkan kematian yang buruk, maka bertaqwalah kepada Allah dan hubungkanlah tali silaturahim."
(Thabrani)
Dalam hadits yang singkat ini, Rasululullah mengatakan bahwa ada tiga keuntungan yang akan terealisasi pada diri orang yang memilki dua sifat terpuji yaitu taqwa kepada Allah dan suka menyambung silaturahim.
e. Dalil V
"Barang siapa yang bertaqwa kepada Rabb-Nya dan menyambung tali silaturahim, maka umurnya akan dipanjangkan, hartanya akan dilimpahkan, dan dicintai keluarganya." (Bukhari)
f. Dalil VI
"Ketaatan yang paling cepat ganjaran pahalanya adalah silaturahim. Bahkan, jika ada anggota keluarga yang selalu berbuat jahat, tetapi ia sering bersilaturahim, niscaya hartanya akan bertambah dan banyak kawannya. Orang yang rajin bersilaturahim itu tidak akan pernah merasa kekurangan." (Ibnu Hibban)
3. Apa saja sarana Silaturahim?
Tak dapat dipungkiri bahwa sebagian orang menduga bahwa silaturahim itu dapat terjalin dengan baik apabila dikaitkan dengan harta. Akan tetapi sebenarnya dugaan tersebut kurang tepat. Imam Ibnu Abu Hamzah pernah mengatakan,"Silaturahim itu dapat terjalin dengan adanya harta, atau menolong ketika dibutuhkan, mencegah dari bahaya, muka yang berseri-seri, dan dengan doa. Maka dapat disimpulkan bahwa silaturahim itu adalah berbuat kepada orang lain dan mencegah mereka dari mara bahaya sesuai dengan kemampuan yang dimiliki."
4. Tata cara bersilaturahim denagn orang-orang kafir.
Ada sebagian orang yang keliru memahami cara bersilaturahim denagn orang-orang kafir ataupun orang yang sering berbuat maksiat yaitu dengan disertai dengan rasa kecintaan, saling balas kasih sayang, berakrab-akrab dengan mereka, dan lain sebagainya. Tentunya ini pendapat yang keliru. Tentunya kita ketahui bersama bahwa islam sangat menganjurkan umatnya untuk berbuat baik kepada siapa saja termasuk orang-orang kafir sekalipun.
Allah berfirman:

"Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil." (Al-Mumtahanah:8)
Akan tetapi yang harus diperhatikan adalah bahwa hal itu tidak berarti kita harus saling berkasih sayang, saling mencintai, dan saling bergaul erat dengan orang-orang kafir. Hal ini dinyatakan dalam Al-Quran:
Akan tetapi yang harus diperhatikan adalah bahwa hal itu tidak berarti kita harus saling berkasih sayang, saling mencintai, dan saling bergaul erat dengan orang-orang kafir. Hal ini dinyatakan dalam Al-Quran:

"Kamu tak akan mendapati kaum yang beriman pada Allah dan hari akhirat, saling berkasih-sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, atau anak-anak atau saudara-saudara ataupun keluarga mereka. Meraka itulah orang-orang yang telah menanamkan keimanan dalam hati mereka dan menguatkan mereka dengan pertolongan yang datang daripada-Nya. Dan dimasukan-Nya mereka ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Allah ridha terhadap mereka, dan merekapun merasa puas terhadap (limpahan rahmat)-Nya. Mereka itulah golongan Allah. Ketahuilah, bahwa sesungguhnya hizbullah itu adalah golongan yang beruntung." (Al-Mujadilah:22)
Menurut Imam Ar-Razi dalam kitab tafsir Mafatihul Ghaib adalah "Bahwa keimanan seseorang tidak dapat bersatu dengan kecintaannya kepada musuh-musuh Allah. Yaitu, barang siapa yang mencintai seseorang, maka pada saat yang bersamaan ia tidak dapat mencintai musuhnya."
Jadi, yang dimaksud bersilaturahim dengan mereka adalah menyerukan kepada mereka adalah menyerukan kepada mereka agar kembali ke jalan yang benar. Akan tetapi, jika mereka tetap pada pendiriannya semula, maka memutuskan tali hubungan itu termasuk bersilaturahim dengan mereka. Imam ibnu abu hamzah berkata "Kalau mereka tetap pada kekafirannya, meskipun kita telah berupaya untuk mengajak mereka ke jalan yang benar, maka memutuskan hubungan dengan mereka karena Allah juga termasuk dalam kategori bersilaturahim. Meskipun demikian, kita pun harus selalu berdoa agar mereka mau kembali ke jalan yang benar."
G. Berinfaq Di Jalan Allah
1. Pengertian Infaq
Syaikh Ibnu Asyur menerangkan arti kata infaq dalam firman Allah yang berbunyi,"Dan barang apa saja yang kamu infaq-kan. Maka dia pasti akan menggantinya." Jadi yang dimaksud dengan infaq adalah mendermakan harta yang dianjurkan di dalam agama, seperti mendermakan para fakir miskin dan mendermakan harta di jalan Allah."
2. Dalil-Dalil
a. Dalil I
Menurut Imam Ar-Razi dalam kitab tafsir Mafatihul Ghaib adalah "Bahwa keimanan seseorang tidak dapat bersatu dengan kecintaannya kepada musuh-musuh Allah. Yaitu, barang siapa yang mencintai seseorang, maka pada saat yang bersamaan ia tidak dapat mencintai musuhnya."
Jadi, yang dimaksud bersilaturahim dengan mereka adalah menyerukan kepada mereka adalah menyerukan kepada mereka agar kembali ke jalan yang benar. Akan tetapi, jika mereka tetap pada pendiriannya semula, maka memutuskan tali hubungan itu termasuk bersilaturahim dengan mereka. Imam ibnu abu hamzah berkata "Kalau mereka tetap pada kekafirannya, meskipun kita telah berupaya untuk mengajak mereka ke jalan yang benar, maka memutuskan hubungan dengan mereka karena Allah juga termasuk dalam kategori bersilaturahim. Meskipun demikian, kita pun harus selalu berdoa agar mereka mau kembali ke jalan yang benar."
G. Berinfaq Di Jalan Allah
1. Pengertian Infaq
Syaikh Ibnu Asyur menerangkan arti kata infaq dalam firman Allah yang berbunyi,"Dan barang apa saja yang kamu infaq-kan. Maka dia pasti akan menggantinya." Jadi yang dimaksud dengan infaq adalah mendermakan harta yang dianjurkan di dalam agama, seperti mendermakan para fakir miskin dan mendermakan harta di jalan Allah."
2. Dalil-Dalil
a. Dalil I

Katakanlah: "Sesungguhnya Tuhanku melapangkan rezki bagi siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya dan menyempitkan bagi (siapa yang dikehendaki-Nya)". Dan barang apa saja yang kamu nafkahkan, maka Allah akan menggantinya dan Dia-lah Pemberi rezki yang sebaik-baiknya." (Saba:39)
Ibnu Katsir menjelaskan ayat tersebut," Yaitu apa saja yang kamu dermakan dari barang yang halal, niscaya Allah pasti akan menggantinya baik itu di dunia dan diakhirat dengan pahala yang berlipat ganda, sebagaimana telah diterangkan di dalam hadits."
b. Dalil II
Ibnu Katsir menjelaskan ayat tersebut," Yaitu apa saja yang kamu dermakan dari barang yang halal, niscaya Allah pasti akan menggantinya baik itu di dunia dan diakhirat dengan pahala yang berlipat ganda, sebagaimana telah diterangkan di dalam hadits."
b. Dalil II

"Syaitan menjanjikan (menakut-nakuti) kamu dengan kemiskinan dan menyuruh kamu berbuat kejahatan (kikir); sedang Allah menjadikan untukmu ampunan daripada-Nya dan karunia. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengatahui." (Al-Baqarah:268)
Al-Qadhi Ibnu Athiyyah berkomentar tentang ayat yang mulai ini, "Ampunan itu adalah menghapus dosa para hamba-Nya di dunia dan akhirat. Karunia adalah rezeki didunia dan kenikmatan di akhirat."
c. Dalil III
Allah berfirman,"Hai Ibnu Adam, dermakanlah hartamu, niscaya Aku akan memberikan gantinya kepadamu." (Muslim)
Imam Nawawi mengomentari firman Allah yang berbunyi, "Dermakanlah hartamu, niscaya Aku akan mengantikannya untukmu adalah sama dengan bunyi firman Allah (Saba:39)."
D. Dalil IV
"Tiada hari dimana para Hamba Allah menyongsong pagi, melainkan dua malaikat turun ke bumi. Setelah itu, salah seorang di antara keduanya berkata,"Ya Allah, berikanlah ganti yang baik kepada orang yang mendermakan hartanya." Sedangkan malaikat yang lain berkata,"Ya Allah, berikanlah kebangkrutan bagi orang yang kikir untuk mendermakan hartanya." (Bukhari)
Dalam hadits yang mulia ini, Rasulullah menerangkan bahwa ada seorang malaikat yang setiap hari mendoakan bagi orang yang mendermakan hartanya agar Allah memberikan gantinya.
E. Dalil V
"Hai Bilal, berdermalah kamu dan jangan kamu merasa khawatir (menjadi miskin karena tidak mendapat ganti) dari Dzat yang memiliki Singgasana." (Baihaqi)
Dari hadits diatas dapat dilihat betapa pastinya jaminan Allah bagi orang yang mendermakan dan menafkahkan hartanya di jalan Allah
F. Dalil VI
"Pada suatu ketika, ada seorang lelaki di tengah tanah lapang yang mendengar suara yang berasal dari awan,"Hai awan, siramilah kebun si fulan dengan air hujanmu!" Tak lama kemudian, awan itu mendekat ke bumi dan menurunkan air hujannya di tanah yang penuh dengan bebatuan. Setelah itu, aliran sungai kecil yang berada di kolam tersebut menampung semua air yang turun dari awan. Air pun mulai mengalir. Tiba-tiba ada seorang lelaki yang berdiri di tengah kebun itu seraya mengatur air dengan cangkulnya. Kemudian lelaki yang pertama itu bertanya kepada lelaki yang berada di tengah kebun, "Hai hamba Allah, siapakah namamu?" Lelaki yang berada di tengah kebun itu menjawab,"Fulan", seperti nama yang didengar pada pertama kali di awan. Lalu lelaki yang berada di kebun itu bertanya,"Hai hamba Allah, mengapa kamu menanyakan namaku?" Lelaki tersebut menjawab,"Aku telah mendengar suara di langit yang air hujannya sekarang sedang turun berkata,"Hai awan, siramilah kebun si fulan" Sebenarnya apa yang telah kamu lakukan?" Lelaki tersebut menjawab" Jika itu yang kamu katakan, maka sebenarnya aku ini hanya memanfaatkan hasil dari kebun ini. Kemudian sepertuga hasilnya aku sedekahkan, sepertinya lagi aku dan keluargaku gunakan untuk kebutuhan sehari-hari dan sepertiganya lagi aku kembalikan kepadanya (untuk menanam dikebun itu pada musim tanam berikutnya)" (Muslim)
Imam Nawawi berkata,"Hadits tersebut menerangkan tentang keutamaan sedekah, berbuat baik kepada orang-orang miskin dan ibnu sabil, keutamaan manusia yang memakan dari hasilnya sendiri dan menginfakkan untuk keluarganya.
G. Mendermakan harta kepada orang yang tekun menuntut ilmu syariat agama Islam
Membiayai orang yang memfokuskan dirinya untuk menuntut ilmu agama adalah merupakan salah satu kunci rezeki.
"Pada masa rasulullah hidup, ada dua orang lelaki bersaudara. Salah seorang diantara mereka berdua selalu datang kepada Rasulullah untuk menuntut ilmu sementara yang satunya lagi bekerja. Karena merasa kesal dengan sikap saudaranya yang hanya menuntut ilmu dan tidak mau membantunya bekerja, maka ia pun datang mengadukan halnya itu kepada rasulullah. Setelah mendengar keluhannya tersebut, Rasulullah berkata,"Janganlah kamu merasa kesal kepadanya! Karena boleh jadi kamu memeproleh rezeki lantaran berkah dari saudaramu yang sedang menuntut ilmu." (Tirmidzi)
Imam Ghozali pernah berkata,"Sebaiknya orang yang wajib mengeluarkan zakat memberikan zakatnya kepada orang yang sedang menuntut ilmu. Karena hal itu merupakan salah satu bukti kepeduliannya kepada ilmu. Sebagaimana kita ketahui bahwa menuntut ilmu itu mrupakan salah satu ibadah yan paling mulia."
H. Berbuat baik kepada orang-orang yang miskin dan lemah
Di antara kunci rezeki yang dapat mendatangkan rezeki kepada kita adalah berbuat baik kepada orang-orang miskin. Rasulullah sendiri pernah mengatakan bahwa kaum muslimin itu bisa memperoleh kemenangan dan rezeki karena sebab adanya orang-orang fakir miskin.
Imam bukhari meriwayatkan sebuah hadits dari Mus'ab bin Sa'ad bahwasanya ia telah berkata,"Sa'ad beranggapan bahwasanya ia mempunyai kelebihan dan keutamaan dari yang lainnya. Rasulullah berkata,"Bukankan kamu memperloh kemenangan dari musuh-musuhmu dan rezeki karena adanya orang-orang yang miskin."
Abu Darda pernah berkata bahwa Rasulullah bersabda,"Mintalah keridhaanku dengan cara berbuat baik kepada orang-orang miskin! Karena sesungguhnya kamu memperoleh kemenangan dan rezeki lantaran adnaya orang-orang miskin." (Tirmidizi)
Oleh karena itu, barangsiapa yang ingin memperoleh keridhaan dari Rasulullah, maka ia harus berbuat baik kepada fakir miskin. Karena sesungguhnya Allah pasti akan menolongnya dari para musuh serta memberkatinya dengan rezeki yang berlimpah.
J. Hijrah di Jalan Allah
1. Pengertian Hijrah
Imam Raghib Al-Ishfahani dalam kitab Al-Mufradaat fii Ghoriibil Quran berkata bahwa hijrah adalah keluar dari Daarul Kufur (Negara kafir) kepada Daarul Iman (negara Islam), sebagaimana kaum muslimin berhijrah dari Makkah menuju Madinah. Sedangkan menurut Sayyid Ridha, Hijrah di Jalan Allah itu harus benar-benar dilaksanakan apabila tujuan orang yang berhirah itu adalah memperolh ridha Allah dengan cara menegakkan agama Islam seperti yang Allah inginkan serta menolong orang-orang mu'min dari cengkeraman orang-orang kafir.
2. Dalil-Dalil
a. Dalil I
Al-Qadhi Ibnu Athiyyah berkomentar tentang ayat yang mulai ini, "Ampunan itu adalah menghapus dosa para hamba-Nya di dunia dan akhirat. Karunia adalah rezeki didunia dan kenikmatan di akhirat."
c. Dalil III
Allah berfirman,"Hai Ibnu Adam, dermakanlah hartamu, niscaya Aku akan memberikan gantinya kepadamu." (Muslim)
Imam Nawawi mengomentari firman Allah yang berbunyi, "Dermakanlah hartamu, niscaya Aku akan mengantikannya untukmu adalah sama dengan bunyi firman Allah (Saba:39)."
D. Dalil IV
"Tiada hari dimana para Hamba Allah menyongsong pagi, melainkan dua malaikat turun ke bumi. Setelah itu, salah seorang di antara keduanya berkata,"Ya Allah, berikanlah ganti yang baik kepada orang yang mendermakan hartanya." Sedangkan malaikat yang lain berkata,"Ya Allah, berikanlah kebangkrutan bagi orang yang kikir untuk mendermakan hartanya." (Bukhari)
Dalam hadits yang mulia ini, Rasulullah menerangkan bahwa ada seorang malaikat yang setiap hari mendoakan bagi orang yang mendermakan hartanya agar Allah memberikan gantinya.
E. Dalil V
"Hai Bilal, berdermalah kamu dan jangan kamu merasa khawatir (menjadi miskin karena tidak mendapat ganti) dari Dzat yang memiliki Singgasana." (Baihaqi)
Dari hadits diatas dapat dilihat betapa pastinya jaminan Allah bagi orang yang mendermakan dan menafkahkan hartanya di jalan Allah
F. Dalil VI
"Pada suatu ketika, ada seorang lelaki di tengah tanah lapang yang mendengar suara yang berasal dari awan,"Hai awan, siramilah kebun si fulan dengan air hujanmu!" Tak lama kemudian, awan itu mendekat ke bumi dan menurunkan air hujannya di tanah yang penuh dengan bebatuan. Setelah itu, aliran sungai kecil yang berada di kolam tersebut menampung semua air yang turun dari awan. Air pun mulai mengalir. Tiba-tiba ada seorang lelaki yang berdiri di tengah kebun itu seraya mengatur air dengan cangkulnya. Kemudian lelaki yang pertama itu bertanya kepada lelaki yang berada di tengah kebun, "Hai hamba Allah, siapakah namamu?" Lelaki yang berada di tengah kebun itu menjawab,"Fulan", seperti nama yang didengar pada pertama kali di awan. Lalu lelaki yang berada di kebun itu bertanya,"Hai hamba Allah, mengapa kamu menanyakan namaku?" Lelaki tersebut menjawab,"Aku telah mendengar suara di langit yang air hujannya sekarang sedang turun berkata,"Hai awan, siramilah kebun si fulan" Sebenarnya apa yang telah kamu lakukan?" Lelaki tersebut menjawab" Jika itu yang kamu katakan, maka sebenarnya aku ini hanya memanfaatkan hasil dari kebun ini. Kemudian sepertuga hasilnya aku sedekahkan, sepertinya lagi aku dan keluargaku gunakan untuk kebutuhan sehari-hari dan sepertiganya lagi aku kembalikan kepadanya (untuk menanam dikebun itu pada musim tanam berikutnya)" (Muslim)
Imam Nawawi berkata,"Hadits tersebut menerangkan tentang keutamaan sedekah, berbuat baik kepada orang-orang miskin dan ibnu sabil, keutamaan manusia yang memakan dari hasilnya sendiri dan menginfakkan untuk keluarganya.
G. Mendermakan harta kepada orang yang tekun menuntut ilmu syariat agama Islam
Membiayai orang yang memfokuskan dirinya untuk menuntut ilmu agama adalah merupakan salah satu kunci rezeki.
"Pada masa rasulullah hidup, ada dua orang lelaki bersaudara. Salah seorang diantara mereka berdua selalu datang kepada Rasulullah untuk menuntut ilmu sementara yang satunya lagi bekerja. Karena merasa kesal dengan sikap saudaranya yang hanya menuntut ilmu dan tidak mau membantunya bekerja, maka ia pun datang mengadukan halnya itu kepada rasulullah. Setelah mendengar keluhannya tersebut, Rasulullah berkata,"Janganlah kamu merasa kesal kepadanya! Karena boleh jadi kamu memeproleh rezeki lantaran berkah dari saudaramu yang sedang menuntut ilmu." (Tirmidzi)
Imam Ghozali pernah berkata,"Sebaiknya orang yang wajib mengeluarkan zakat memberikan zakatnya kepada orang yang sedang menuntut ilmu. Karena hal itu merupakan salah satu bukti kepeduliannya kepada ilmu. Sebagaimana kita ketahui bahwa menuntut ilmu itu mrupakan salah satu ibadah yan paling mulia."
H. Berbuat baik kepada orang-orang yang miskin dan lemah
Di antara kunci rezeki yang dapat mendatangkan rezeki kepada kita adalah berbuat baik kepada orang-orang miskin. Rasulullah sendiri pernah mengatakan bahwa kaum muslimin itu bisa memperoleh kemenangan dan rezeki karena sebab adanya orang-orang fakir miskin.
Imam bukhari meriwayatkan sebuah hadits dari Mus'ab bin Sa'ad bahwasanya ia telah berkata,"Sa'ad beranggapan bahwasanya ia mempunyai kelebihan dan keutamaan dari yang lainnya. Rasulullah berkata,"Bukankan kamu memperloh kemenangan dari musuh-musuhmu dan rezeki karena adanya orang-orang yang miskin."
Abu Darda pernah berkata bahwa Rasulullah bersabda,"Mintalah keridhaanku dengan cara berbuat baik kepada orang-orang miskin! Karena sesungguhnya kamu memperoleh kemenangan dan rezeki lantaran adnaya orang-orang miskin." (Tirmidizi)
Oleh karena itu, barangsiapa yang ingin memperoleh keridhaan dari Rasulullah, maka ia harus berbuat baik kepada fakir miskin. Karena sesungguhnya Allah pasti akan menolongnya dari para musuh serta memberkatinya dengan rezeki yang berlimpah.
J. Hijrah di Jalan Allah
1. Pengertian Hijrah
Imam Raghib Al-Ishfahani dalam kitab Al-Mufradaat fii Ghoriibil Quran berkata bahwa hijrah adalah keluar dari Daarul Kufur (Negara kafir) kepada Daarul Iman (negara Islam), sebagaimana kaum muslimin berhijrah dari Makkah menuju Madinah. Sedangkan menurut Sayyid Ridha, Hijrah di Jalan Allah itu harus benar-benar dilaksanakan apabila tujuan orang yang berhirah itu adalah memperolh ridha Allah dengan cara menegakkan agama Islam seperti yang Allah inginkan serta menolong orang-orang mu'min dari cengkeraman orang-orang kafir.
2. Dalil-Dalil
a. Dalil I

"Barangsiapa berhijrah di jalan Allah, niscaya mereka mendapati di muka bumi ini tempat hijrah yang luas dan rezki yang banyak. Barangsiapa keluar dari rumahnya dengan maksud berhijrah kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian kematian menimpanya (sebelum sampai ke tempat yang dituju), maka sungguh telah tetap pahalanya di sisi Allah. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (An-Nisa:100)
Allah telah menjanjikan kepada kaum muslimin dalam ayat ini bahwa barang siapa di antara kaum muslimin yang melakukan hijrah, niscaya ia akan mendapat dua hal: tempat hijrah yang luas dan rezeki yang banyak. Imam Ar-Razi menerangkan ringkasan dari ayat tersebut sebagai berikut,"Hai anak manusia, kalau kamu merasa enggan untuk meninggalkan negerimu karena takut terjerumus dalam kesusahan dan cobaan, maka janganlah kamu merasa khawatir Sesungguhnayn Allah akan memberikan kenikmatan dan keberkahan dalam hijrahmu itu yang kelak akan menjadi penyebab kebahagian hidupmu."
Allah telah menjanjikan kepada kaum muslimin dalam ayat ini bahwa barang siapa di antara kaum muslimin yang melakukan hijrah, niscaya ia akan mendapat dua hal: tempat hijrah yang luas dan rezeki yang banyak. Imam Ar-Razi menerangkan ringkasan dari ayat tersebut sebagai berikut,"Hai anak manusia, kalau kamu merasa enggan untuk meninggalkan negerimu karena takut terjerumus dalam kesusahan dan cobaan, maka janganlah kamu merasa khawatir Sesungguhnayn Allah akan memberikan kenikmatan dan keberkahan dalam hijrahmu itu yang kelak akan menjadi penyebab kebahagian hidupmu."
Referensi:
Mafaatihur Rizqi Fi Dhoil Kitaab wa Sunnah (Edisi Bahasa Indonesia: Kunci Sukses Memperoleh rezeki ditinjau dari Al-Quran dan Al-Hadits) Karya Dr. Fadhl Ilahi
16 Dzulqa'dah 1430 H
4 November 2009 M
| Comments |
|
|
|||||||||||
|
|||||||||||
Powered by !JoomlaComment 3.26














Dear Accank, Hal itu tergantung dari...
Dear Ronald, Terima kasih atas saran...
Untuk pengguna debian 6.0 (squeeze) d...
mas sy ingin bertanya,dari semua netw...
Dear Syukran, Mungkin hadits ini bis...