Rasulullah bersabda:
Dari Anas bin Malik ia berkata, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda,"Sesungguhnya diantara manusia ada yang menjadi kunci-kunci pembuka kebaikan dan penutup kejahatan. Dan di antara manusia ada juga yang menjadi kunci-kunci pembuka keburukan dan penutup kebaikan. Maka beruntunglah orang-orang yang Allah jadikan sebagai kunci-kunci pembuka kebaikan melalui tangannya dan celakalah orang-orang yang Allah jadikan sebagai kunci-kunci pembuka keburukan melalui tangannya." (Ibnu Majah)
Ibnul Qayyim berkata:"Kunci semua kebaikan adalah keinginan bertemu dengan Allah dan mendapat akhirat (surga). Kunci semua keburukan adalah cinta dunia dan panjangnya angan-angan. Mengetahui hal ini adalah suatu hal yang sangat agung dan termasuk ilmu yang paling bermanfaat di antara ilmu-ilmu yang lain, yaitu mengetahui kunci-kunci kebaikan dan keburukan. Tidaklah ada orang-orang yang mengenal dan memperhatikan hal ini kecuali orang-orang yang sangat beruntung dan mendapatkan taufik."
Pintu-pintu kebaikan itu banyak sekali. Barangsiapa yang telah dibukakan salah satu pintu kebaikan maka janganlah mengejek atau merendahkan orang lain yang telah dibukakan pintu kebaikan yang lain. Ada kisah yang menarik sekali yaitu Abdullah al-Umari seorang ahli ibadah mengirim surat ke Imam Malik (yang isinya) menyarankan agar sang imam menyendiri (dari orang-orang) dan beramal. Maka sang imam pun membalas surat tersebut,"Sesungguhnya Allah membagi amalan-amalan sebagaimana membagi rezeki. Banyak orang yang dibukakan baginya pintu shalat, tetapi tidak dibukakan baginya pintu puasa. Begitu pula yang lainnya, dibukakan pintu sedekah, tidak dibukakan pintu puasa. Dan yang lainnya lagi, dibukakan pintu jihad. Menyebarkan ilmu termasuk diantara amalan-amalan yang sangat afdhal. Saya telah ridha dengan apa yang telah Allah bukakan untuk saya. Saya menganggap apa yang sekarang saya jalani tidaklah lebih rendah dari apa yang anda amalkan. Saya berharap kita berdua berada dalam kebaikan dan ketakwaan."
Miftahul khair (kunci kebaikan) tidak hanya para ustadz atau para dai, tetapi juga meliputi setiap orang yang bisa mengajak orang-orang lain untuk taat dan menjauhi perbuatan maksiat seperti guru, orang tua, orang kaya yang memanfaatkan hartanya untuk kebaikan, dan lain-lain. Menjadi miftahul khair termasuk salah satu cara untuk menjadi orang yang bermanfaat untuk orang lain dan menjadi orang yang paling dicintai Allah. Rasulullah bersabda:
"Orang yang paling dicintai Allah adalah yang paling bermanfaat bagi manusia." (al-Mu'jam al-Kabir no. 13646)
Berikut adalah tips-tips untuk menjadi Miftahul Khair:
1. Al-'Azm (Tekad yang bulat) dan Niat Yang Benar
Hendaknya kita tanamkan di dalam hati kita keinginan yang kuat untuk mengubah dan mengajak orang-orang disekeliling kita kepada kebaikan. Dengan demikian, kita akan senantiasa berfikir bagaimana cara yang tepat untuk mewujudkan hal tersebut. Terkadang kita agak malu, tapi ingatlah bahwa "Malu itu tidak datang kecuali untuk kebaikan." Jika kita malu untuk berbuat baik, maka ketahuilah itu datangnya dari setan.
Allah berfirman:
Ibnul Qayyim berkata:"Kunci semua kebaikan adalah keinginan bertemu dengan Allah dan mendapat akhirat (surga). Kunci semua keburukan adalah cinta dunia dan panjangnya angan-angan. Mengetahui hal ini adalah suatu hal yang sangat agung dan termasuk ilmu yang paling bermanfaat di antara ilmu-ilmu yang lain, yaitu mengetahui kunci-kunci kebaikan dan keburukan. Tidaklah ada orang-orang yang mengenal dan memperhatikan hal ini kecuali orang-orang yang sangat beruntung dan mendapatkan taufik."
Pintu-pintu kebaikan itu banyak sekali. Barangsiapa yang telah dibukakan salah satu pintu kebaikan maka janganlah mengejek atau merendahkan orang lain yang telah dibukakan pintu kebaikan yang lain. Ada kisah yang menarik sekali yaitu Abdullah al-Umari seorang ahli ibadah mengirim surat ke Imam Malik (yang isinya) menyarankan agar sang imam menyendiri (dari orang-orang) dan beramal. Maka sang imam pun membalas surat tersebut,"Sesungguhnya Allah membagi amalan-amalan sebagaimana membagi rezeki. Banyak orang yang dibukakan baginya pintu shalat, tetapi tidak dibukakan baginya pintu puasa. Begitu pula yang lainnya, dibukakan pintu sedekah, tidak dibukakan pintu puasa. Dan yang lainnya lagi, dibukakan pintu jihad. Menyebarkan ilmu termasuk diantara amalan-amalan yang sangat afdhal. Saya telah ridha dengan apa yang telah Allah bukakan untuk saya. Saya menganggap apa yang sekarang saya jalani tidaklah lebih rendah dari apa yang anda amalkan. Saya berharap kita berdua berada dalam kebaikan dan ketakwaan."
Miftahul khair (kunci kebaikan) tidak hanya para ustadz atau para dai, tetapi juga meliputi setiap orang yang bisa mengajak orang-orang lain untuk taat dan menjauhi perbuatan maksiat seperti guru, orang tua, orang kaya yang memanfaatkan hartanya untuk kebaikan, dan lain-lain. Menjadi miftahul khair termasuk salah satu cara untuk menjadi orang yang bermanfaat untuk orang lain dan menjadi orang yang paling dicintai Allah. Rasulullah bersabda:
"Orang yang paling dicintai Allah adalah yang paling bermanfaat bagi manusia." (al-Mu'jam al-Kabir no. 13646)
Berikut adalah tips-tips untuk menjadi Miftahul Khair:
1. Al-'Azm (Tekad yang bulat) dan Niat Yang Benar
Hendaknya kita tanamkan di dalam hati kita keinginan yang kuat untuk mengubah dan mengajak orang-orang disekeliling kita kepada kebaikan. Dengan demikian, kita akan senantiasa berfikir bagaimana cara yang tepat untuk mewujudkan hal tersebut. Terkadang kita agak malu, tapi ingatlah bahwa "Malu itu tidak datang kecuali untuk kebaikan." Jika kita malu untuk berbuat baik, maka ketahuilah itu datangnya dari setan.
Allah berfirman:
"Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah." (Ali-Imran: 159)
2. Ilmu
Dengan ilmu kita bisa mengetahui mana yang merupakan miftahul khair dan mana yang metupakan miftahus syarr (kunci keburukan). Dengan ilmu kita bisa membedakan yang mana termasuk perbuatan taat dan yang mana termasuk perbuatan maksiat. Dengan ilmu kita mengetahui halal dan haram. Semakin tinggi seseorang ilmu seseorang maka perkara-perkara yang menurutnya syubhat akan semakin berkurang. Rasulullah bersabda:
"Sebaik-baik yang ditinggalkan oleh seseorang setelah dia meninggal ada tiga: Anak yang shalih yang selalu berdoa kepadanya sehingga sampailah kepadanya apa yang didoakan, sedekah yang pahalanya mengalir kepadanya, dan ilmu yang diamalkan (oleh orang lain) setelahnya." (Ibnu Majah)
3. Beramal dengan Ilmu
Mungkin diantara kita pernah mengeluh,"Saya sudah lama berdakwah, tetapi mengapa tidak banyak memberikan pengaruh?" Kita harus sadar dan muhasabah (intropeksi) diri kita sendiri. Bagaimana mungkin orang yang tidak memiliki keshalihan akan menularkan keshalihannya kepada orang lain? Oleh karena itu, kerjakanlah kewajiban-kewajiban dan jauhilah larangan-larangan Allah dan Rasul-Nya. Adapun amalan-amalan yang sifatnya sunnah maka kita amalkan semampu kita dan kita pertimbangkan manakah diantara amalan-amalan tersebut yang lebih mudah dan lebih afdhal untuk diri kita dari yang amalan-amalan lainnya.
4. Mengikuti cara yang dicontohkan oleh Nabi
Kita harus mengikuti segala apa yang dicontohkan oleh Nabi dalam beribadah, sebab jika tidak maka amal yang kita lakukan akan tertolak berdasarkan sabda Nabi:

Dari 'Aisyah ia berkata, rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda,"Barangsiapa mengerjakan sesuatu yang baru dalam urusan (agama) kami tanpa dasar perintah kami, maka ia tertolak." (Muslim)
5. Menjadi An-Nashih (Orang yang selalu menasihati)
Menjadi An-Nashih adalah nikmat yang sangat besar sekali. Coba bayangkan seandainya kita sedang melakukan perbuatan perbuatan dosa, kemudian ditegur atau dilarang oleh seseorang, maka betapa senangnya hati kita, karena tidak jadi melakukan maksiat kepada Allah. Allah menceritakan perkataan Nabi Isa:
5. Menjadi An-Nashih (Orang yang selalu menasihati)
Menjadi An-Nashih adalah nikmat yang sangat besar sekali. Coba bayangkan seandainya kita sedang melakukan perbuatan perbuatan dosa, kemudian ditegur atau dilarang oleh seseorang, maka betapa senangnya hati kita, karena tidak jadi melakukan maksiat kepada Allah. Allah menceritakan perkataan Nabi Isa:
"dan Dia menjadikan aku seorang yang diberkati di mana saja aku berada, dan Dia memerintahkan kepadaku (mendirikan) shalat dan (menunaikan) zakat selama aku hidup;" (Maryam:31)
Ibnu tafsir berkata dalam tafsirnya,"Menjadi Mubarak yaitu dengan beramar maruf nahi munkar."
6. Berakhlak Mulia dan Menjaga Muru'ah
Muru'ah adalah kehormatan, citra diri atau sesuatu yang sudah sepantasnya ada pada seseorang. Contohnya jika suatu daerah dianggap sesuatu yang sangat aib sekali jika seseorang Thalabul Ilmi atau penuntut ilmu shalat dengan memakai celana, maka untuk menjaga muruahnya dia shalat dengan memakai sarung. Hukumnya kembali kepada adat masing-masing daerah. Meskipun menjaga muruah bukanlah sesuatu yang wajib, tetapi hal ini sangat memberikan pengaruh terhadap orang-orang di sekeliling kita. Imam syafii berkata,"Seandainya air yang dingin (dapat) merusak sesuatu dari kewibaanku (kehormatanku) maka saya tidak akan minum air kecuali yang panas."
7. Berteman dengan orang-orang yang telah dikenal sebagai Miftahul Khair
Ketahuilah! Hewan-hewan saja bisa memberikan pengaruh terhadap watak seseorang jika dia sering bersamanya. Padahal hewan-hewan tersebut tidak bisa berbicara. Apalagi jika yang sering bersamanya adalah orang-orang yang bisa berbicara, tentu pengaruhnya akan semakin besar. janganlah malu mendekati miftahul khair meski umur kita masih terlalu muda. Begitu pula orang yang sudah diberi hidayah oleh Allah sebagai Miftahul Khair, janganlah gengsi bergaul dengan yang lebih muda. Bisa jadi kebaikan-kebaikan mengalir melalui yang lebih muda.
8. Hikmah dalam berdakwah
Allah berfirman:
Ibnu tafsir berkata dalam tafsirnya,"Menjadi Mubarak yaitu dengan beramar maruf nahi munkar."
6. Berakhlak Mulia dan Menjaga Muru'ah
Muru'ah adalah kehormatan, citra diri atau sesuatu yang sudah sepantasnya ada pada seseorang. Contohnya jika suatu daerah dianggap sesuatu yang sangat aib sekali jika seseorang Thalabul Ilmi atau penuntut ilmu shalat dengan memakai celana, maka untuk menjaga muruahnya dia shalat dengan memakai sarung. Hukumnya kembali kepada adat masing-masing daerah. Meskipun menjaga muruah bukanlah sesuatu yang wajib, tetapi hal ini sangat memberikan pengaruh terhadap orang-orang di sekeliling kita. Imam syafii berkata,"Seandainya air yang dingin (dapat) merusak sesuatu dari kewibaanku (kehormatanku) maka saya tidak akan minum air kecuali yang panas."
7. Berteman dengan orang-orang yang telah dikenal sebagai Miftahul Khair
Ketahuilah! Hewan-hewan saja bisa memberikan pengaruh terhadap watak seseorang jika dia sering bersamanya. Padahal hewan-hewan tersebut tidak bisa berbicara. Apalagi jika yang sering bersamanya adalah orang-orang yang bisa berbicara, tentu pengaruhnya akan semakin besar. janganlah malu mendekati miftahul khair meski umur kita masih terlalu muda. Begitu pula orang yang sudah diberi hidayah oleh Allah sebagai Miftahul Khair, janganlah gengsi bergaul dengan yang lebih muda. Bisa jadi kebaikan-kebaikan mengalir melalui yang lebih muda.
8. Hikmah dalam berdakwah
Allah berfirman:

"Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk." (An-Nahl:125)
9. Berlemah lembut terhadap yang lain
9. Berlemah lembut terhadap yang lain

Dari Abu Darda dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, beliau bersabda,"Barangsiapa yang diberi bagian dari bagian kelemahlembutan, maka sungguh ia telah diberi bagian dari kebaikan. Dan barangsiapa yang diharamkan untuk mendapatkan bagian dari kelemahlembutan, maka ia sungguh telah diharamkan untuk mendapatkan kebaikan." (Tirmidzi)
10. Sabar
Menjadi Miftahul Khair tidaklah mudah. Tentu ada saja hambatan-hambatan dan rintangan-rintangan baik dari dalam diri kita sendiri ataupun dari orang lain. Perjuangan dakwah kita belumlah seberapa bila dibanding para Nabi. Rasulullah pernah ditanya:
"Ya Rasulullah! manusia manakah yang paling berat ujiannya? Beliau menjawab,"Para Nabi kemudian orang-orang yang semisalnya. Seseorang akan diuji sesuai kadar agamanya. Jika agamanya kuat maka akan ditambahkan ujian itu. Jika agamanya lemah maka akan diuji sesuai kadar agamanya." (Tirmidzi No. 2398)
11. Banyak berdoa
Jangan lupa, banyaklah berdoa kepada Allah agar dijadikan Miftahul Khair dan mendoakan kebaikan untuk orang-orang di sekitar kita diwaktu-waktu yang mustajab. Hal ini banyak dilupakan oleh kebanyakan orang.
Mudah-mudahan Allah menjadikan kita Miftahul Khair dan menjadikan tulisan ini bermanfaat untuk semua. Amin.
10. Sabar
Menjadi Miftahul Khair tidaklah mudah. Tentu ada saja hambatan-hambatan dan rintangan-rintangan baik dari dalam diri kita sendiri ataupun dari orang lain. Perjuangan dakwah kita belumlah seberapa bila dibanding para Nabi. Rasulullah pernah ditanya:
"Ya Rasulullah! manusia manakah yang paling berat ujiannya? Beliau menjawab,"Para Nabi kemudian orang-orang yang semisalnya. Seseorang akan diuji sesuai kadar agamanya. Jika agamanya kuat maka akan ditambahkan ujian itu. Jika agamanya lemah maka akan diuji sesuai kadar agamanya." (Tirmidzi No. 2398)
11. Banyak berdoa
Jangan lupa, banyaklah berdoa kepada Allah agar dijadikan Miftahul Khair dan mendoakan kebaikan untuk orang-orang di sekitar kita diwaktu-waktu yang mustajab. Hal ini banyak dilupakan oleh kebanyakan orang.
Mudah-mudahan Allah menjadikan kita Miftahul Khair dan menjadikan tulisan ini bermanfaat untuk semua. Amin.
Referensi:
Ceramah dari Prof. Dr. Abdurrazaq bin Abdul Muhsin al-Badr yang diterjemahkan oleh Majalah Adz-Dzakhirah Vol. 8 No. 7 Edisi 61 Th. 1431/2010
21 Sya'ban 1431 H
2 Agustus 2010 M
| Comments |
|
Powered by !JoomlaComment 3.26














Dear Accank, Hal itu tergantung dari...
Dear Ronald, Terima kasih atas saran...
Untuk pengguna debian 6.0 (squeeze) d...
mas sy ingin bertanya,dari semua netw...
Dear Syukran, Mungkin hadits ini bis...