Polemik tentang keberadaan Allah ternyata tidak hanya terjadi pada zaman sekarang ini, tetapi hal ini berlangsung sejak zaman para Tabiin. Bahkan pada zaman dahulu polemik tersebut lebih hebat dan lebih dahsyat dibandingkan dengan zaman sekarang. Hal ini disebabkan banyaknya orang kafir yang sangat membenci dan memusuhi Islam dan ingin menghancurkan islam. Namun mereka sadar bahwa mereka tidak mungkin menghancurkan Islam secara terang-terangan karena pada saat itu kekuatan umat Islam sangat besar dan kuat yang membuat gentar orang-orang kafir baik di timur maupun di Barat. Maka dari itu, mereka pun merubah rencana mereka yaitu dengan cara sembunyi-sembunyi dan dari dalam. Banyak diantara mereka berpura-pura masuk Islam kemudian menyebarkan pemahaman-pemahaman sesat mereka di dalam tubuh umat Islam yang bertujuan agar umat Islam tidak mengetahui ajaran Islam yang sesungguhnya
sehingga tujuan mereka untuk menghancurkan Islam menjadi kenyataan.Orang-orang kafir tersebut mengetahui bahwa Tauhid merupakan inti dari ajaran Islam. Oleh karena itulah mereka mengarahkan senjata-senjata mereka yang berupa pemahaman-pemahaman sesat kepada pada bidang Tauhid. Ditambah lagi pada saat itu ilmu Filsafat berkembang luas dan pesat di kalangan umat Islam yang membuat pekerjaan mereka lebih mudah untuk menghancurkan Islam dari dalam. Salah satu pemahaman sesat yang mereka susupkan dalam bidang Tauhid adalah tentang keberadaan Allah.
Rasulullah menginformasikan kepada umatnya bahwa Allah itu berada di langit. Namun orang-orang zindiq tersebut mengaburkan informasi tersebut dengan berbagai macam cara yang membuat akidah umat Islam menjadi tercemar dan terdistorsi. Mereka mengatakan bahwa Allah itu tidak berada di langit tetapi Allah itu berada di mana-mana atau mengatakan bahwa Allah itu ada di dalam hati dan lain sebagainya. Mereka menggunakan Logika dan Ilmu filsafat untuk menguatkan pemahaman sesat mereka bahkan mereka merubah arti kata-kata dalam al-Quran maupun Hadits seperti kata istiwa yang ada di dalam al-Quran yang artinya bersemayam menjadi istaula yang berarti menguasai.
Salah satu tokoh yang menyebarkan pemahaman ini adalah Jahm bin Shofwan. Banyak umat Islam yang terpengaruh dengan ajaran-ajarannya baik sadar maupun tidak sadar. Orang-orang yang terpengaruh pemahaman Jahm bin shofwan ini dinamakan oleh para ulama sebagai golongan Jahmiyyah. Tidak hanya mengingkari keberadaan Allah di langit, golongan Jahmiyyah juga mengingkari tentang sifat-sifat Allah yang tertera di Al-quran dan Hadits. Hal ini sangat membahayakan akidah umat Islam. Menyadari fenomena ini, bangkitlah para ulama untuk membendung faham-faham Jahmiyyah untuk melindungi aqidah Islam yang diajarkan oleh Rasulullah dan para sahabatnya. Banyak para ulama menulis kitab untuk membendung serangan Jahmiyyah seperti Imam Ahmad, Utsman bin Sa'id Ad-Darimi, Ibnu Mandah, Ibnu Baththah dan lain sebagainya menulis judul kitab yang sama yaitu seperti kitab Ar-Radd 'alal Jahmiyyah atau Bantahan terhadap Jahmiyyah. Bahkan Ibnul Qayyim mengatakan tentang fenomena ini bahwa pertempuran antara ahli hadits dengan kelompok Jahmiyyah lebih dahsyat daripada pertempuran antara pasukan kafir dengan pasukan Islam.
Seorang ulama yang bernama Abu Abdullah Syamsuddin Muhammad bin Ahmad bin Utsman bin Qaimaz Al-Dimasyqi Al-Atsari atau yang lebih dikenal dengan nama Imam Adz-Dzahabi menulis sebuah kitab untuk membantah pemahaman Jahmiyyah. Namun tidak seperti ulama lainnya yang membantah pemahaman pemahaman Jahmiyyah secara keseluruhan, Imam Adz-Dzahabi menulis kitab tersebut khusus membantah pemahaman golongan Jahmiyyah yang mengingkari keberadaan Allah di langit. Kitab tersebut berjudul Al 'Uluww lil 'Aliyyil 'Azhim wa Idhahi Sahhih Al-Akhbar min Saqimiha. Kitab tersebut merangkum dalil-dalil dari Hadits Rasulullah dan perkataan para Imam tentang keberadaan Allah di langit. Kitab tersebut kemudian diringkas oleh pakar hadits abd ini yaitu Nashiruddin Al-Albani dan diberi judul Mukhtashar Al-'Uluw li 'Aliyyil Ghaffar dan diterbitkan oleh Pustaka Azzam dengan judul Mukhtashar Al-'Uluw Studi Tauhid Menurut Ahlus Sunnah wal Jamaah.
Di dalam meringkasnya, Syaikh Albani rahimahullah menggunakan metode sebagai berikut:
1. Membuang hadits-hadits yang terulang.
2. Hadits-hadits dhaif dan gharib (Asing) yang tidak memiliki syahid (hadits lain yang menguatkan) yang kredibel tapi masih mungkin dikuatkan statusnya berdasarkan syarat-syarat penguatan suatu hadits dalam ilmu hadits.
3. Membuang apa yang sudah ditegaskan penyusun akan validitasnya atau dikutip dari lainnya, sebab adanya aspek-aspek negatif yang terlihat oleh beliau.
4. Membuang kisah-kisah israiliyyat meski memiliki sanad yang shahih kecuali jika pengertiannya sesuai dengan al-Quran dan Hadits.
5. Toleransi terhadap atsar (ucapan sahabat) atau pendapat memiliki titik lemah dan ketidakjelasan dalam rangkaian sanadnya sebab baik atsar maupun pernyataan tersebut bukan hadits-hadits marfu yang harus dijadikan hujjah (argumen) dan dianggap sebagai bagian dari ideologi.
6. Membuang rangkaian sanad hadits atau atsar yang kurang bermanfaat bagi pembaca umumnya.
7. Memberikan penomoran hadits atau atsar dalam kitab ini dengan cara mengurutkannya dari awal hingga akhir.
8. Mentakhrij hadits-hadits dan atsar dalam kitab.
9. Memberikan komentar-komentar yang bermanfaat atas hadits-hadits dan atsar-atsarnya.
Maka dari itu, buku ini sangat penting untuk dibaca guna menambah pengetahuan dan memperoleh pemahaman yang benar tentang keberadaan Allah sebagaimana yang disyariatkan dalam agama Islam sehingga kita tidak salah dalam memahami dan meyakininya apalagi berusaha menakwilkannya dengan takwil yang tidak sesuai dengan kesempurnaan dan keagungan Allah Subhanahu Wa Taala. Sudah seharusnya setiap muslim pada zaman sekarang ini memiliki buku ini di rumah-rumah mereka atau setidaknya membaca buku ini dan mengajarkan kepada keluarga mereka pada khususnya dan orang lain pada umumnya tentang salah satu akidah Islam yang sangat agung yaitu bahwa Allah bersemayam di atas 'Arsy di atas langit.
Data Buku:
Judul Asli: Mukhtashar Al-'Uluw li 'Aliyyil Ghaffar
Judul: Mukhtashar Al-'Uluw Studi Tauhid Menurut Ahlus Sunnah wal Jamaah
Penulis: Muhammad Nashiruddin Al-Albani
Penerbit: Pustaka Azzam
Cetakan: Pertama, Oktober 2002
Halaman: xxii+354 halaman
Judul: Mukhtashar Al-'Uluw Studi Tauhid Menurut Ahlus Sunnah wal Jamaah
Penulis: Muhammad Nashiruddin Al-Albani
Penerbit: Pustaka Azzam
Cetakan: Pertama, Oktober 2002
Halaman: xxii+354 halaman
29 Rabi'ul Akhir 1431 H
14 April 2010 M
| Comments |
|
Powered by !JoomlaComment 3.26














Dear Eko, Perlu diketahui bahwa artik...
Sama-sama
salam kenal... mohon bantuan nya mas....
Halo Rahman, Kalau saya lihat dari&n...